Posted On February 27, 2017 By In Resensi And 376 Views

Jalan Sunyi Wiji

Meski dalam beberapa hari terakhir review film yang bakal saya tonton ini bersliweran di timeline Facebook dan Twitter, namun saya punya pegangan bahwa tak akan membaca review film sebelum saya menontonnya, agar kalau bagus saya puas betul, kalau jelek biar sempurna saya mengumpati sutradaranya. Haha.

Dan meski ketika akan menonton film ini, salah satu kawan saya yang sudah menikmatinya berpesan, “jangan terlalu berekspektasi tinggi, ya.. Filmnya biasa saja.” Itu tidak menyurutkan langkah saya sedikitpun untuk tetap menontonnya.

Film yang saya tonton kemarin ini adalah gambaran dari penggalan kisah seorang penyair yang ditakuti Suharto dan orde barunya, meski tubuhnya kerempeng, ia selain penyair, juga adalah seorang buruh demonstran. Tak ayal jika nyawanya jadi incaran kekejaman rejim orba.

“Orde baru itu bangsat, tapi takut sama kata-kata,” teriak Wiji pada salah satu adegan film ini.

Nama lahirnya Wiji Widodo, asli Solo. Setelah bergabung dengan Teater Jagat, baru kemudian ia memperoleh nama populer dari kawan-kawannya: Wiji Thukul, biji yang tumbuh.

Salah satu ungkapan populer yang ketika diucapkan musti selalu dinisbatkan pada dirinya adalah kata “Lawan!”. Kata itu berasal dari pungkasan salah satu puisi Wiji yang amat populer berjudul “Peringatan”. Puisi itu menggambarkan kekejian diri penguasa orde baru dengan gamblang dan terang.

Tetapi apa yang saya paparkan di atas, Wiji Thukul dengan segala keheroikannya melawan orba tidakklah diceritakan dalam film yang saya tonton ini. Tidak ada di sana Wiji digambarkan memimpin demo buruh, tak ada di sana Wiji dengan gagahnya membacakan puisi di panggung-panggung mengkritik penguasa. Tidak, tidak ada dan tidak akan kita temukan di sana.

Istirahatlah Kata-kata garapan Yosep Anggi Noen ini bercerita tentang sepenggal kesunyian hidup Wiji ketika menjadi buronan politik orde baru. Dari awal hingga nanti di akhir cerita, yang ditunjukkan oleh film ini adalah Wiji sebagai manusia biasa, sebagai suami, sebagai bapak bagi dua anaknya. Ketertekanan mental sebab jadi buronan amat apik ditayangkan, rasa takut akan kejaran tentara, intel dan antek orba lainnya, mewarnai kesunyian film ini.

Bagi saya yang gemar menonton film sunyi, tanpa aksi, tanpa kegaduhan-kegaduhan adegan lainnya, film yang hanya memainkan dialog, ekspresi dan perasaan, Istirahatlah kata-kata adalah sebuah kemewahan. Berlatar tahun 1996, dua tahun sebelum Soeharto jatuh, film ini, sekali lagi dengan apik menampilkan tekanan jiwa Wiji ketika jadi buron dan harus melarikan diri, mencari aman ke Pontianak. Hal itu dikuatkan dengan banyak sekali adegan yang menggambarkan gelap, sunyi dan kesendirian Wiji dalam pelarian.

 

Gunawan Maryanto dengan sepenuh hati menjiwai betul perannya sebagai Wiji Thukul, seorang penyair yang menginspirasinya, yang pernah ia temui sekali saja seumur hidupnya. Gunawan dengan epic menirukan kecadelan Wiji yang tak bisa mengucap huruf  “r”. Begitu juga dengan Marissa Anita, dengan logat jawa yang lancar dan akting yang mumpuni, dia berhasil mengimbangi akting Gunawan, sebagai istri Wiji, Sipon. Saya suka cara mereka berdua mengumpati kemalangan hidup dengan bahasa jawa yang paripurna.

Saya amat tersentuh ketika harus ikut masuk dalam perasaan Wiji sebagai buronan politik orba, dalam tekanan, dalam keterasingan, dalam ketakutan dan dalam kesunyian. Wiji saat itu harus mengambil jalan sunyi yang harus ia tempuh sendiri. Sebuah rejim busuk yang saking lamanya berkuasa, dengan mudah begitu saja melenyapkan nyawa seorang pejuang seperti Wiji.

Yang paling membuat saya gregetan adalah, dalam sejarah Wiji bukan satu-satunya yang menjadi buronan, dan kemudian, hanya selang sebulan sebelum reformasi 98, dihilangkan oleh oknum yang sengaja dibikin seolah entah, tapi semua nyatanya tahu jelas siapa mereka. Wiji dan banyak pejuang kemanusiaan lainnya hingga saat ini belum bisa ditemukan jasadnya.

Sipon, istri Wiji, berperan penting dalam film ini. Bagaimana ketika ditinggal Wiji ia harus menghidupi kedua anaknya, Fitri dan Fajar. Hampir setiap hari rumahnya didatangi intel ataupun tentara, mengintrogasi, menyita buku atau apa saja yang dianggap mereka berbahaya. Menghadapi pelecehan verbal tetangga lelaki yang dialamatkan padanya, dengan kesemuanya itu, Sipon tetap tegar. Laku Sipon semakin menguatkan karakter kesunyian film ini.

Akan tetapi dengan segala keasikan yang saya paparkan tadi, saya kecewa dengan naskah skenarionya. Mustinya film ini bisa menjadi lebih dahsyat ketika dialognya dirangcang lebih kuat lagi. Inilah salah satu kelemahannya. Meski demikian, hal itu sedikit tertambal oleh dua-tiga kutipan puisi Wiji yang turut mewarnai, seperti ini misalnya,

Rumahku digeledah, buku-bukuku dirampas tapi aku berterima kasih karena kalian mengajarkan anak-anakku kewaspadaan dan makna penindasan sejak kecil.

Saya suka Istirahatlah Kata-kata, karena film ini berakhir saat saya masih ingin menontonnya. Dialog emosional antara Wiji dan Sipon di akhir cerita, sukses membuat saya kepingin terus-terusan mengikuti kisahnya.

“Aku ora pengin kowe lungo tapi aku yo ora pengen kowe muleh, aku mung pengin kowe ono.”  –Sipon

 

 

 
Tulisan ini pernah dimuat di sini.

Tags :

Mahasiswa Paramadina, aktif menulis di berbagai media.

Leave a Reply