Posted On June 21, 2015 By In Al-Qur'an, Keislaman, Tasawuf And 2251 Views

Ber-ihsān ala Gus Dur

Beberapa waktu lalu media sosial kita sempat ramai gara-gara anjuran Wakil Presiden Jusuf Kalla agar masjid-masjid tidak memutar kaset tilawah sebelum Subuh. (Kompas.com). Komentar dan tanggapan bermunculan, yang mendukung maupun yang mencibir. Tak luput artikel Gus Dur, yang ditulis tiga puluhan tahun lalu dan kemudian disertakan dalam buku Tuhan Tidak Perlu Dibela, juga dilibat-libatkan dalam keramaian itu guna mendukung anjuran JK. Dan memang Gus Dur sendiri dalam artikel berjudul ‘Islam Kaset dan kebisingannya’ itu menyarankan “peninjauan kembali ‘kebijaksanaan’ suara lantang di tengah malam.” (Gus Dur: 2010, 45).

Sudut pandang yang Gus Dur ambil dalam artikel itu didominasi pandangan fikih. Maka itu beliau menyitir hadis Nabi tentang diangkatnya kewajiban syariat dari tiga orang, menyinggung terma ‘illat atau “sebab yang sah menurut agama,” menyebutkan orang-orang yang selayaknya ‘tidak diganggu’ dengan kebisingan suara tengah malam, dan seterusnya.

Namun rupa-rupanya ada sudut pandang lain yang Gus Dur pakai sehubungan dengan kehidupan pribadinya, dan memang sedikit ‘berbeda’ dari sudut pandang di atas. Sudut pandang ini diceritakan oleh KH. Muhammad Mustofa dalam pengajian kitab Risālat ahlis sunnah wal Jamāʽah karya Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Ciganjur.

Pak Mus, demikian kami para santri memanggil KH. Muhammad Mustofa, bercerita bahwa Gus Dur punya kebiasaan bangun sebelum fajar Subuh menyingsing dan mendengarkan dengan seksama lantunan ayat yang terdengar dari pengeras suara di masjid. Saking biasanya, Gus Dur seakan hafal mana ayat-ayat yang baru kemarin diputar dan meminta agar diputarkan ayat yang lain. Lebih dari itu, beliau menjadikan ayat yang terdengar pertama kali sebagai solusi masalah yang belum terpecahkan.

Pada mulanya Pak Mus mempertanyakan cara Gus Dur tersebut. “Memangnya ada yang salah?” tanya Gus Dur. “Ya gak ada sih, Pak,” sahut Pak Mus menyapa Gus Dur dengan sapaan ‘Bapak’. “Ya sudah kalau gak ada yang salah,” lanjut Gus Dur, “toh coba pikir, siapa yang membuat saya bangun jam segini hingga bisa mendengar kaset al-Quran diputar? Siapa yang membuat si pak haji itu bangun dan memutar kaset di masjid? Ya Allah juga to.”

Pak Mus pun memahami kearifan Gus Dur. Kearifan yang berakar pada sikap ihsān, yakni sikap, dalam bahasa Pak Mus, “menghadirkan Allah setiap saat,” sikap ‘mata batin’, sikap roso (rasa, dzauq) dalam ‘melihat’ Allah di balik setiap fenomena. Memandang fenomena tanpa terkurung dan terbatas dalam fenomena tersebut, tapi juga memandang Pencipta segala fenomena. Kearifan yang lahir dari jantung tauhid yang telah berurat berakar dalam jiwa.

Gus Dur melihat sebuah fenomena dari sisi berlainan dan bisa dibilang pula ‘bertingkat’. Karena itu sikap yang diambil tidak sebatas berwarna hitam-putih, melainkan justru warna-warni sesuai dengan perspektif dan konteksnya. Dari perspektif fikih dan dalam hubungan dengan kemaslahatan orang lain, putaran kaset tengah malam memang dapat menganggu mereka yang tak berkewajiban salat. Oleh sebab itu, ia perlu ditinjau kembali. Sementara itu dari perspektif ihsān dan dalam konteks hubungan pribadi dengan Allah, hal yang sama justru dapat menjadi salah satu sumber petunjuk Allah yang harus direnungkan.

Dua sikap itu sama sekali tidak bertentangan. Malah keduanya saling melengkapi dan berhasil membangun pandangan serta sikap yang utuh. Selama kaset al-Quran senantiasa berputar sebelum fajar, usaha merenungi ayat-ayat yang dilantunkan mesti terus berjalan. Namun kalau toh kemudian saran Gus Dur yang bernuansa fikih di atas dilaksanakan sungguh-sungguh dan kaset tak lagi diputar, ya ndak masalah. Toh itu hanya salah satu sumber saja, dan sumber lain masih banyak.

Lalu bagaimana cara Gus Dur menjadikan ayat itu sebagai jalan keluar? Pak Mus juga menanyainya. Akhirnya malah beliau ketiban berbagai-bagai tugas: menjelaskan konteks runtutan ayat dalam al-Quran, asbabun nuzulnya, juga tafsirnya; hal-hal yang tak bisa dilakukan tanpa merujuk beragam referensi. Setelah itu? “Ya kalau hari ini ada undangan seminar, saya sampaikan di seminar. Atau kalau ada tamu, ya jadi tema obrolan. Kalau gak ada sama sekali, ya jadi artikel,” kata Gus Dur.

Demikianlah akhirnya satu ayat al-Quran itu jadi ‘makanan pokok’ Gus Dur sehari-hari, ‘makanan’ yang ‘gizi-rohani’-nya tak habis-habis disari-uraikan, senantiasa bergizi, senantiasa berisi. Demikian pula cara Gus Dur ber- ihsān dan menghidupi al-Quran.[]

 

 

Tags : , ,

Leave a Reply