Posted On May 18, 2015 By In Al-Qur'an, Keislaman And 11579 Views

Epistemologi al-Qur’an

Apa itu epistemologi al-Qur’an?

Barangkali merupakan hal yang tidak biasa jika dalam al-Quran, buku suci yang terdiri dari sekitar enam ribu butir ayat, terdapat lebih dari tujuh ratus lema dari kata عَلِمَ  “tahu” beserta seluruh derivasinya. Artinya, hampir dalam tiap sepuluh ayat terdapat satu dari sekian variasi turunan kata ini. Fakta ini, di samping kenyataan lain yang berkaitan dengan struktur makna kata عَلِمَ, menunjukkan betapa besar penekanan yang diberikan al-Quran terhadap pengetahuan.

Meski demikian, juga merupakan hal yang tidak biasa dan aneh bila ternyata sedikit sekali perhatian yang dicurahkan terhadap kenyataan ini. Pentingnya pengetahuan dalam al-Quran telah sedemikian sering dikemukakan dalam retorika-retorika keagamaan kita hingga membuat kenyataan itu sendiri menjadi banal dan kita sendiri terbuai dan lupa untuk menelisik lebih dalam mengenai struktur dan dasar-dasar pengetahuan dalam al-Quran. Untuk sebagian, keterbuaian ini dapat dimaklumi, karena problem struktur dan dasar-dasar pengetahuan adalah bagian dari problem filsafat dan, kita tahu, mayoritas para ulama kita, yang teramat penting pengaruhnya dalam mewarnai corak keberislaman di negeri ini, kurang akrab—untuk tidak mengatakan meremehkan dan/atau memusuhi—filsafat.

Ini berarti, suatu kajian terhadap epistemologi al-Quran mestilah dilakukan jika kita menghendaki suatu pemahaman yang mendalam terhadap konsepsi kitab suci kita ini. Dalam hal ini, epistemologi al-Quran dimaknai sebagai suatu teori mengenai sistem pengetahuan yang dibangun dari pandangan dunia al-Quran. Tentu saja, masih dapat didiskusikan apakah al-Quran sungguh-sungguh menyuguhkan pandangan yang sistematis dan padu hingga kita dapat menyebutnya teori. Pada kenyataannya, meski para ulama kita seringkali menyatakan bahwa al-Quran bukan kitab sejarah, fiqh, atau teologi, mereka tetap mengakui bahwa ia adalah sumber utama dan pertama dalam keseluruhan ladang keilmuan itu dan tidak ragu sedikit pun bahwa setiap teori atau pandangan yang berasal dari luar al-Quran dan bertentangan dengannya pastilah salah. Hal yang sama dapat dikatakan mengenai epistemologi, meski kita belum akan sampai pada posisi setegas itu; problem epistemologi bukan problem yang sederhana, dimana sekian banyak teori yang tak jarang saling berkontradiksi telah menjadi khazanah dan warisan, dan kajian ini, sedikit atau banyak, tak dapat sepenuhnya bersembunyi dari dialog dengan teori-teori itu.

Apa metode epistemologi al-Quran?

Tentu saja, “banyak jalan menuju Roma”, dan banyak metode pula yang dapat dimanfaatkan untuk menggali sistem epistemologi dari al-Quran. Namun, tanpa risiko mengorbankan konsentrasi dan konsistensi kajian, metode tertentu harus dipilih. Dalam kajian ini, kita akan mempraktikkan metode semantik struktural dalam membaca al-Quran.

Metode semantik bukan metode baru dalam jagat kajian al-Quran. Toshihiko Izutsu, seorang sarjana Jepang, telah mempraktikkannya dalam dua buku yang teramat baik dan berharga, Konsep-konsep Etika Religius dalam Qur’an dan Relasi Tuhan dan Manusia; Pendekatan Semantik terhadap al-Qur’an.[1] Harus diakui, pemilihan semantik struktural dalam kajian ini diinspirasi oleh, dan banyak bersandar pada, karya Toshihiko. Secara skematis, komponen-komponen konseptual metode ini dapat digambarkan sebagai berikut,

Dengan skema ini, semantik struktural mau mengembangkan konsekuensi-konsekuensi semantik dari konsepsi Ferdinand de Sausurre mengenai bahasa. Oleh Saussure, bahasa dimengerti sebagai Gestalt, yakni suatu totalitas sistem yang unsur-unsurnya saling berkaitan dan bergantung. Sebagai satuan terkecil yang bermakna dalam bahasa, suatu kata tidak sama sekali terpisah dari kata yang lain. Di antara keseluruhan kata, terdapat hubungan-hubungan yang rumit, timbal-balik, dan tumpang-tindih. Kata benda علم, yang dalam bahasa kita diterjemah dengan “pengetahuan”, bukan kata yang sama sekali terpencil dari kata دراسة, حياة, dan terlebih جهل, yang masing-masing disepadankan dengan kata “belajar”, “kehidupan”, dan “kebodohan”. Keseluruhan kata yang bersifat demikian inilah yang disebut kosa kata. Jadi, konsep kosa kata dalam semantik struktural bukan semata-mata jumlah kata dalam suatu bahasa.[2]

Bilamana kosa kata ini masih sedemikian besar dan luas, ia kemudian terbagi ke dalam kelompok-kelompok yang disebut ‘medan semantik’ (semantics field), yakni suatu wilayah dimana sejumlah kata berkaitan dengan cara yang persis sebagaimana dalam kosa kata. Beda antara keduanya adalah bahwa kosa kata lebih luas isinya, sedangkan medan semantik hanya mewakili suatu bidang konseptual tertentu; sementara kosa kata adalah struktur multi-strata, strata-strata tersebut tak lain adalah kelompok-kelompok kata kunci yang disebut medan semantik. Medan ini, bila cukup besar dan mengandung bidang-bidang konseptual yang lebih kecil, dapat dianggap pula sebagai kosa kata. [3]

Dalam konteks kajian al-Quran, bahasa Arab, menurut Toshihiko Izutsu, merupakan sebuah kosa kata yang besar dan dapat dipilah ke dalam, sekurang-kurangnya, tiga medan semantik atau sistem konseptual: pra-al-Quran, al-Quran, dan pasca-al-Quran. Karena masih cukup besar dan dapat dipilah lagi ke dalam medan semantik yang lebih kecil, masing-masing dari tiga medan ini dapat dianggap sebagai kosa kata tersendiri. Kosa kata pra-al-Quran terdiri dari tiga medan semantik: medan badwi murni, medan kaum pedagang, dan medan Yahudi-Kristen. Sementara itu, kosa kata al-Quran, secara linguistik, pada dasarnya adalah campuran dari tiga sistem konseptual tersebut, namun dengan interpretasi dan struktur yang sudah jauh berubah. Menurut Toshihiko, salah satu perbedaan fundamental antara kosa kata pra-al-Quran dengan kosa kata al-Quran adalah kenyataan bahwa kata yang sama, Allah, menempati posisi yang jauh berbeda dalam kedua kosa kata ini; sementara dalam kosa kata pra-al-Quran, ia berada di pinggiran belaka, dalam kosa kata al-Quran, ia merupakan kata fokus tertinggi dan terpenting, sedemikian hingga seluruh konsep dalam al-Quran tidak dapat lepas darinya.[4] Terakhir, meskipun sistem konseptual pasca-al-Quran ‘hanya dapat tumbuh dan berkembang pada tanah yang telah dipersiapkan bahasa Wahyu’, ia juga begitu luas sehingga memungkinkan kita untuk menyebut beberapa sistem konseptual di bawahnya sebagai kosa kata tersendiri, baik teologi, hukum, tasawuf, maupun filsafat.[5]

Setiap medan semantik berisi sekelompok kata kunci yang saling berhubungan. Kata kunci dalam hal ini dimaksudkan sebagai kata yang memiliki peran yang relevan dan penting dalam penyusunan sebuah struktur konseptual.[6] Dari sekelompok kata kunci tersebut, terdapat satu kata yang menyatukan pelbagai kata lainnya ke dalam satu medan semantik tersendiri sekaligus membedakan medan yang disusunnya dengan medan lainnya. Kata yang berperan demikian ini disebut ‘kata fokus’. Penentuan mana yang termasuk kata kunci atau kata fokus tidak dapat dianggap mudah dan harus melibatkan kecermatan memandang, meski secara umum saja, terhadap keseluruhan struktur kosa kata yang akan diteliti.

Untuk kepentingan kajian ini, setidak-tidaknya kita dapat mendaftar kata-kata berikut ke dalam kata kunci medan semantik epistemologi al-Quran:   عَلِمَ، عَرَفَ، ظَنَّ، حَقّ، بَطَلَ, “mengetahui”, “mengerti”, “menyangka”, “benar”, “salah”, dengan kata yang disebut pertama sebagai kata fokus.

Sampai di sini, yang harus disadari adalah bahwa fokus analisis semantik struktural adalah bukanbentuk kata, melainkan struktur makna-nya. Dan, memang dalam hal struktur makna inilah kenyataan bahwa keseluruhan kata dalam suatu bahasa saling terhubung dan menentukan satu sama lain harus dipahami. Jika mau memahami ayat ini dari sisi semantik:

وَقَالُوْا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ، وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ، إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّوْنَ (الجاثية : 24)

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

apa yang kita tanyakan bukanlah apa bentuk kata علم, atau bagaimana struktur gramatikalnya, melainkan apa makna kata tersebut dalam hubungannya dengan kata يظنون atau maknanya dalam keseluruhan ayat ini. Kerumitan, dan sekaligus tantangan, dari penelitian semantik atas epistemologi al-Quran ini adalah ia tidak boleh tidak harus meneliti dan mengurai makna setiap kata kunci yang relevan dalam keseluruhan ayat dimana kata tersebut digunakan, berikut hubungan-hubungan yang terjalin sistematis antara tiap kata dengan yang lain. Baru dengan analisis semisal inilah, kita akan sampai pada kesimpulan menyeluruh mengenai pengetahuan dalam al-Quran.[*]

 

________________________________________

[1] Konsep-konsep Etika Religius dalam Qur’an (Tiara Wacana: Jogjakarta, 2003). Relasi Tuhan dan Manusia, (Tiara Wacana: Jogjakarta, 2003)

[2] Relasi Tuhan dan Manusia, (Tiara Wacana: Jogjakarta, 2003) hlm. 20.

[3] Ibid, hlm. 20-22.

[4] Ibid, Hlm. 35-36.

[5] Ibid, hlm. 42

[6] Ibid, hlm. 22.

Tags : , , ,

Leave a Reply