Posted On February 26, 2017 By In Headline, Keislaman And 725 Views

Esensi Agama: Doktrin dan Metode atau Pembedaan dan Penyatuan

Esai ini adalah “semacam” komentar atas dua paragraf pertama Bab I dari buku Seyyed Hossein Nasr Ideals and Realities of Islam.

Seyyed Hossein Nasr memulai uraiannya tentang Islam dengan menegaskan bahwa setiap agama wahyu (revealed religion), termasuk Islam, adalah sekaligus sebuah agama dan Sang Agama. Penegasan ini sebenarnya adalah pembedaan antara unsur esensial agama dan unsur aksidental atau diferensial agama—suatu prinsip epistemologis dasar dalam sophia perennis, perspektif yang digunakan Nasr;[1] unsur esensial berarti unsur intrinsik yang pasti ada dalam setiap, agama, sedangkan unsur aksidental atau diferensial berarti unsur-unsur yang tidak pasti ada dalam setiap agama; dikatakan dengan cara lain, unsur esensial adalah unsur-unsur yang menyebabkan kesamaan antaragama, sedangkan aksidental/diferensial berarti unsur-unsur yang menyebabkan perbedaan antaragama.

Sebagaimana ditegaskan oleh Huston Smith, kesamaan antaragama pastilah ada. Alasannya: andai sama sekali tidak ada kesamaan antaragama, maka kita tidak akan pernah dibenarkan menamai atau mengidentifikasi segala fenomena, yang sedari dahulu telah kita namai “agama”, itu sebagai “agama”; dengan kata lain, apa yang sesungguhnya kita rujuk ketika mengatakan kata “agama”, tanpa pembatasan apapun, sebenarnya adalah unsur-unsur kesamaan, atau esensi, yang dapat ditemukan dalam semua agama; dan ketika, misalnya, kita menyebut “Islam,” kita sebenarnya sedang merujuk kepada esensi agama—dan inilah Sang Agama—yang telah dikhususkan atau “dibungkus” oleh sejumlah sifat-sifat khusus tertentu—dan sifat-sifat khusus inilah sebuah agama.

Masalahnya adalah menentukan secara spesifik unsur-unsur kesamaan dan perbedaan antaragama. Dalam hal apa saja semua agama sama, dan dalam hal apa pula semua agama berbeda? Secara logis, opsi yang dapat diajukan untuk menjawab pertanyaan ini beragam, pun juga kebenaran dan kekuatannya, seturut keragaman perspektif yang dapat digunakan. Jawaban Nasr didasarkan pada perspektif sophia perennis: bahwa semua agama sama-sama mengandung Doktrin dan Metode, tapi berbeda dalam (1) penekanan terhadap unsur-unsur tertentu dari Doktrin sesuai dengan kebutuhan spiritual dan psikologis umat sasarannya, (2) bahasa yang mengekspresikan Doktrin, dan (3) cara konkrit mempraktikkan Metode. Kami, tentu, tidak akan menguraikan semua kesamaan dan perbedaan ini di sini karena semua itu baru akan dibahas atau disinggung, eksplisit maupun implisit, oleh Nasr dalam bagian-bagian berikutnya. Selanjutnya, kami hanya akan coba menjelaskan apa isi umum dari Doktrin dan Metode itu.

Doktrin adalah pembedaan antara (1) Yang Mahanyata secara absolut (the absolutely Real) dan (2) yang nyata secara relatif (the relatively real); atau antara Yang-sungguh-sungguh-Nyata dan yang-tampak-nyata; atau, dalam bahasa teologis, antara “Tuhan” dan “selain Tuhan”. Dipandang dari segi objek, pembedaan ini adalah pembedaan metafisik dan transenden, yakni pembedaan yang diarahkan pada, dan melampaui, (meta, beyond) dunia fisik; artinya, ketika seseorang menerima pembedaan ini, dia secara tersirat mengakui tingkatan (hierarchies, marātib) kenyataan, di mana “Sesuatu” lebih nyata ketimbang sesuatu yang lain, dan kenyataan fisik hanya salah satu dari beragam tingkatan kenyataan tersebut—suatu prinsip metafisik dasar dalam sophia perennis.[2] Dipandang dari segi subjek, pembedaan ini adalah pembedaan intelektual; artinya, subjek yang melakukan pembedaan adalah daya intelektual manusia.

Pertanyaan: ketika kita mengatakan “Yang Mahanyata secara absolut” dan “yang nyata secara relatif”, apa yang dimaksud dengan “absolut” dan “relatif”? “Kalau kami ditanya apa itu Yang Absolut,” tulis Schuon, “kami akan menjawab, pertama-tama, bahwa Ia adalah Kenyataan Yang Pasti (necessary), dan bukan sekedar kenyataan yang mungkin (possible).”[3]

Untuk memperjelas, mari kita ambil contoh sederhana: hubungan esai ini dengan penulisnya. Ketika pertama kali tahu bahwa esai ini ada, teman-teman mesti berkesimpulan bahwa pasti ada seseorang yang dalam jangka beberapa waktu lalu telah menulis esai ini; artinya, dalam hubungan dengan esai ini, keberadaan penulisnya bersifat absolut, sedangkan keberadaan esai ini sendiri bersifat relatif/nisbi karena sebelum ditulis, esai ini tidak ada; jadi, keberadaan penulis tidak bergantung kepada esai, tapi keberadaan esai bergantung pada keberadaan penulisnya. Dengan cara yang lebih jelas, pembedaan metafisik di atas mau mengatakan bahwa Keberadaan atau Realitas Tuhan bersifat sedemikian pasti sehingga tidak bergantung pada apapun, sedangkan keberadaan atau realitas selain-Nya bersifat mungkin sehingga amat bergantung pada Tuhan, pada Dia yang keberadaan/kenyataannya amat pasti itu.

Sekarang, menyatakan bahwa Keberadaan Tuhan bersifat absolut/pasti mengimplikasikan bahwa Keberadaan-Nya bersifat tak-terbatas (infinite); artinya, pernyataan bahwa Keberadaan Tuhan bersifat pasti dan tidak tergantung pada apapun berarti bahwa Dia sedemikian penuh dan merdeka dari segala sehingga tak ada sesuatu pun yang dapat menambahi mapun mengurangi kepenuhan dan kemerdekaan-Nya; dan bila Dia sedemikian penuh dan merdeka dari segala—atau singkatnya, tak-terbatas—maka itu berarti Dia Mahasempurna (perfect); jadi, Tuhan Mahaabsolut, Maha Tak-terbatas, dan Mahasempurna;[4] sebaliknya, segala selain Tuhan bersifat relatif, terbatas, dan tidak sempurna.

Pembedaan di atas merupakan pembedaan metafisik yang paling mendasar, dan ia, sebagaimana dalam penegasan Nasr sebelumnya, dapat ditemukan dalam setiap agama. Nasr tidak menyangkal bahwa agama-agama mempunyai bahasa yang berbeda dalam mengungkapkan pembedaan ini, namun perbedaan tersebut tidak sampai mencakup perbedaan esensial; secara singkat, hanya perbedaan bahasa, bukan makna. Dalam konteks Islam, Doktrin diuraikan dalam ilmu kalam atau akidah dan filsafat Islam, tapi uraian yang paling mendalam dan lengkap hanya dapat ditemukan dalam metafisika sufi.

Kini tentang Metode. Metode berarti cara memusatkan dan/atau melekatkan diri kepada Sang Absolut dan “hidup seturut Kehendak Langit sesuai dengan tujuan dan makna keberadaan manusia.” Bilamana Doktrin berbicara tentang karakter dan perbedaan metafisik masing-masing dari Tuhan dan selain-Nya, tak terkecuali manusia, maka Metode berbicara tentang cara bagaimana manusia dapat kembali dan “menyatu” dengan Tuhan; Doktrin membedakan, Metode menyatukan; Doktrin intelektual, Metode eksistensial; Doktrin memberikan perspektif, Metode membukakan jalan untuk menerapkan perspektif.

Agama mengenalkan Metode karena memang tujuan agama itu sendiri adalah “menyatukan” atau “mengikat” manusia pada Tuhan; agama datang bukan hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan intelektual manusia yang paling mendasar dengan seperangkat doktrin intelektual yang statis dan “kering”, tapi juga mengajak mereka yang menerima kebenaran doktrin tersebut untuk menjalani hidup yang dinamis dan “basah” dengan metode yang agama bawa dan yang, tentu saja, serasi dengan doktrin intelektual itu.

Karena manusia kompleks, Metode mesti juga kompleks. Setidaknya, kompleksitas tersebut dapat direduksi, berdasarkan sudut pandang tertentu, kepada dua aspek: lahiriah dan batiniah; maksudnya, manusia mempunyai aspek lahiriah dan batiniah, dan Metode pun juga mempunyai aspek lahiriah dan batiniah. Aspek lahiriah manusia adalah aspek manusia sebagai anggota masyarakat, dan aspek inilah yang menjadi subjek dari aspek lahiriah Metode; sementara itu, aspek batiniahnya adalah manusia sebagai individu, dan aspek ini menjadi subjek bagi aspek batiniah Metode. Sampai di sini, dapat dikatakan bahwa semua agama sama dari segi garis besar dan tujuan Metode, tapi berbeda-beda dari segi rincian dan penekanan terhadap aspek tertentu, baik aspek manusia maupun aspek Metode.

Dalam konteks Islam, aspek lahiriah Metode diwakili oleh syariah, sedangkan aspek batiniah Metode diwakili oleh tasawuf atau tarekat; syariah mengatur dimensi lahiriah seorang muslim/muslimah dalam berinteraksi sosial-kulturalnya, sedangkan tasawuf mendidik aspek ruhani atau spiritualitasnya. Perlu ditegaskan di sini bahwa dua aspek ini tidak boleh dipisahkan sedemikian ketat karena masing-masing saling mempengaruhi.[]

______________________

[1] Seyyed Hossein Nasr, Religion and the Order of Nature, (Oxford: Oxford University Press, 1996), h. 14-15; juga Nasr, The Essential Nasr, ed. William Chittick, (Bloomington: World Wisdom, 2007), h. 24-25.

[2] Menurut Nasr, prinsip hierarki realitas inilah yang membedakan perspektif tradisional, atau sophia perennis, dari perspektif lain semisal historisisme, fenomenologi, dan lain-lain. Nasr, The Essential Nasr, ed. William Chittick, h. 22.

[3] Frithjof Schuon, Glossary of Terms Used by Frithjof Schuon, ed. Deon Valedia, h. 3.

[4] Schuon, Glossary, h. 3.

Tags : ,

Leave a Reply