Posted On May 14, 2015 By In Kajian, Sosial And 1328 Views

Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme: Sebuah Pengantar

Buku Max Weber, The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism (Die Protestan Ethik Under Giest Des Kapitalis), terbit tahun 1920, beberapa saat setelah kematiannya. Buku ini pada awalnya hanya berupa artikel dua bagian di jurnal ilmiah Archiv fur Sozialwissenschaft  und Sozialpolitik (1904-1905). Buku ini menarik dan memancing perdebatan sengit yang melibatkan tokoh-tokoh besar karena Weber sendiri mampu mengungkap fakta-fakta otentik seputar agama dan kaitannya dengan perkembangan kapitalisme. Selain itu, ia juga hadir pada periode penting setelah Weber pulih dari sakit depresi yang dialaminya selama empat tahun dan sempat membuatnya tidak mampu menghasilkan karya-karya akademis.

Untuk memahami gagasan dalam buku ini, dibutuhkan penjelasan mengenai dua aspek keadaan yang melatarbelakangi arus pemikiran. Pertama, iklim intelektual dan kedua, jaringan antara karya itu sendiri dengan program studi dalam fase kedua karir penulis. Mari kita mulai dengan yang pertama.

Pada abad ke-19 perkembangan filsafat, teori politik dan ekonomi di Jerman bertolak belakang dengan perkembangan yang terjadi di Inggris. Dominasi pengetahuan ekonomi politik klasik dan utilitarianisme di Inggris tidak mampu direproduksi di Jerman sebab dihambat oleh pengaruh idealisme dan marxisme. Di Inggris, System of Logic (1843) karya John Stuart Mill yang merupakan pengikut ajaran positivime Comte mampu memberikan sumbangsih besar atas penyatuan ilmu-ilmu sosial dan ilmu alam. Sementara di Jerman logika itu tidak berkembang karena muncul pandangan. Ini terkait dengan hermeneutika dan diferensiasi antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu kemanusiaan. Perilaku manusia penuh makna sehingga harus diinterpretasikan atau dipahami dengan cara yang berbeda dengan cara menjelaskan fenomena-fenomena alam.

Pemaknaan terhadap Kapitalisme dan Pengaruhnya

Dalam upaya merinci karakteriktik penentu kapitalisme modern, Weber terlebih dahulu memisahkan antara perusahaan kapitalistik dengan hasrat mendapat kapital. Hasrat mendapat kekayaan adalah sesuatu yang alamiah, terjadi hampir di semua peradaban dalam kurun waktu yang hampir bersama. Meski demikian hasrat tidak selalu berkaitan dengan karakter esensial kapitalisme.

Kapitalisme dalam bentuk operasi-operasi perdagangan sudah terjadi sejak abad pertengahan, tetapi baru menemukan momentumnya sejak kebangkitan peradaban Barat. Hal ini terjadi karena pemaknaan terhadap “perdagangan” dan transformasi pengetahuan mulai berubah. Aktivitas kapitalistis diasosiakan sebagai organisasi rasional buruh yang merdeka, dalam arti adminstrasi yang terukur secara kontinu. Perusahaan kapitalistis rasional merujuk pada dua hal: tenaga kerja yang disiplin dan investasi kapital yang diregulasi. Inilah yang menjadi dasar pembeda dengan karakteristik aktivitas ekonomi tradisional.

Pengaruh signifikan dari transformasi ekonomi tradisional ke ekonomi modern melahirkan kedisiplinan yang tinggi dan pada akhirnya melahirkan konsekuensi-konsekuensi. Misalnya, majikan yang ingin meningkatkan produktivitasnya akan memberikan piece rates (bonus) kepada karyawan. Dengan aturan ini para pekerja akan mendapatkan insentif lebih. Namun harus diakui, konsekuensi ini tidak selamanya berjalan dengan baik dan sesuai harapan majikan, sebab para pekerja, terlebih yang hasratnya biasa-biasa saja, justru akan bekerja lebih lamban dari biasanya. Itu bisa saja terjadi karena mereka tidak tertarik memaksimalkan penghasilan. Fenomena serupa juga terjadi pada orang-orang kaya pemilik modal dalam berbagai bentuk masyarakat. Mereka yang mendapat keuntungan dari perusahaan hanya sekadar mencari uang untuk digunakan pada hal-hal umum: membeli kebutuhan, kesenangan, dan kekuasaan. Reproduksi kapital secara regular yang melibatkan investasi dan reinvestasi secara kontinu untuk tujuan efisiensi ekonomi kurang familiar bagi perusahaan-perusahaan tradisional.

Menurut Anthony Giddens, esensi dari spirit kapitalisme Weber bisa diasalkan pada sifat manusia yang didominasi keinginan mendapat uang melalui akuisisi[1] sebagai tujuan utama hidupnya. Akuisisi ekonomis inilah yang kemudian tidak lagi menjadi subordinat bagi cara-cara manusia memuaskan kebutuhan materinya.

Menjadi rumus tanya, apa yang dijelaskan dari kondisi historis seseorang berhasrat mengumpulkan kekayaan tapi dengan ketiadaan kepentingan atas kesenangan duniawi? Tanya ini yang pada akhirnya mengantarkan pada konsep etika Protestan.

Menurut Weber, keliru menyatakan bahwa hasrat mendapat kekayaan berasal dari pengenduran nilai-nilai moralitas. Pandangan ini berdasar atas moral itu sendiri, yang menuntut adanya disiplin diri sendiri. Para pengusaha yang diasosiasikan dengan pengembangan kapitalisme rasional justru memadukan akumulasi kekayaan dengan gaya hidup hemat secara positif.

Weber menemukan jawab ini dari the wordly asceticism atau tapa brata duniawi. Asketisme ini difokuskan melalui konsep calling (sinyal/panggilan) yang lahir dari semangat reformasi gereja. Calling merujuk pada ide awal bahwa bentuk tertinggi dari kewajiban moral individu adalah memenuhi tugas-tugasnya dalam urusan duniawi atau, meminjam istilahnya Mohamad Sobari, kesalehan sosial. Istilah calling ini tidak ditemukan sebelumnya dalam lingkungan Katolik atau zaman purba. Ia hanya ditemukan di lingkungan Protestan. Martin Luther adalah orang yang mengembangkan konsep ini pada dekade pertama dari aktivitasnya sebagai reformator.

Lebih jauh, Weber menjelaskan bahwa arti penting konsep ‘panggilan’ dalam agama Protestan adalah untuk membuat urusan-urusan  biasa dari kehidupan sehari-hari berada dalam pengaruh agama. ‘Panggilan’ bagi seseorang adalah suatu usaha yang dilakukan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibanya terhadap Tuhan dengan cara perilaku yang bermoral dalam kehidupan sehari-harinya. ‘Panggilan’ merupakan suatu cara hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan dengan memenuhi kewajiban yang telah dibebankan kepada dirinya sesuai dengan kedudukannya di dunia. ‘Panggilan’ adalah konsepsi agama tentang suatu tugas yang telah ditetapkan Tuhan, suatu tugas hidup, suatu lapangan yang jelas di mana seseorang harus bekerja.

Namun demikian, bagi Weber, ‘panggilan’ sebagaimana dipahami oleh Luther masih bersifat tradisional. Hal ini terutama berdasarkan penekanannya yang kuat terhadap unsur nasib dimana seseorang tetap berada pada tempatnya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Tuhan. Dengan demikian, maka tidak mungkin bagi Luther untuk mengembangkan hubungan yang fundamental antara aktivitas duniawi dengan prinsip- prinsip keagamaan. Akan tetapi dengan konsep itu paling tidak Luther telah meletakkan dasar yang kuat bagi pengembangan konsep tersebut selanjutnya.

Pada gilirannya, doktrin takdir ini mengalami perkembangan, terlebih dalam ajaran Calvinisme. Menurutnya hanya beberapa orang terpilih yang bisa terselamatkan dari kutukan, dan pilihan itu sudah ditetapkan jauh sebelumnya. Hasilnya, muncul dua konsekuensi perkembangan. Pertama, seseorang diwajibkan meyakini diri sendiri sebagai ‘orang terpilih’ sehingga kurangnya keyakinan dipandang sebagai indikasi kurangnya iman. Kedua, performa kerja yang baik. Oleh karena itu kesuksesan calling dianggap sebagai sinyal/tanda (bukan alat) untuk menentukan apakah orang itu dipilih atau tidak. Jika seseorang berhasil dalam kerjanya (sukses) maka hampir dapat dipastikan bahwa ia ditakdirkan menjadi penghuni surga. Namun sebaliknya, kalau di dunia ini selalu mengalami kegagalan maka dapat diperkirakan seorang itu ditakdirkan untuk masuk neraka.

Doktrin Protestan yang kemudian menginspirasi karya Weber tersebut telah membawa implikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan. Etos itu berkaitan langsung dengan semangat untuk bekerja keras guna merebut kehidupan dunia dengan sukses. Kesuksesan material-duniawi merupakan ukuran bagi kesuksesan di akhirat. Meski begitu, dan ini yang penting, akumulasi kekayaan dibolehkan sejauh dikombinasikan dengan karir besar dan upaya yang sungguh-sungguh. Akumulasi kekayaan dinilai amoral jika hanya dilakukan untuk menopang kehidupan mewah dan bermalas-malas.

Dengan kata lain, kapitalisme modern menuntut pembatasan konsumsi supaya uang yang ada itu dapat di investasikan kembali. Di samping itu, demi pertumbuhan modal, kapitalisme menuntut kesediaan tunduk pada disiplin perencanaan yang sistematis untuk tujuan-tujuan  di masa mendatang, bekerja secara teratur  dalam suatu pekerjaan dan sebagainya. Penjelasan ini memperllihatkan hubungan yang saling mendukung antara etika Protestan dan semangat kapitalisme.

Fakta Otentik dan Penyebabnya

Sisi lain yang menarik dari buku ini adalah Weber mampu mengawali tulisannya dengan menghadirkan fakta-fakta otentik terkait stratifikasi sosial dalam kaitannya dengan komposisi agama yang beraneka ragam. Weber mengemukakan fakta bahwa para pemimpin bisnis, pemilik modal maupun pekerja perusahaan yang berkualitas, staf ahli yang terdidik ternyata kebanyakan dari penganut Protestan. Hal ini, menurut Weber, bisa dirunut dari sejarah masyarakat dimana upaya membebaskan sistem ekonomi tradisional sekaligus adalah upaya meragukan kesucian tradisi-tradisi agama.

Di luar itu, ada juga fenomena lain yang tidak bisa dijelaskan dengan cara yang sama. Di beberapa kawasan seperti Baden, Bavaria, dan Hungaria, misalnya, terdapat banyak penganut Katolik yang memberikan pendidikan tinggi kepada anak-anak mereka. Meski begitu, persentasenya masih kalah jauh dengan orang-orang Protestan. Orang-orang Katolik lebih menyukai pelatihan dibandingkan dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Padahal semua orang tahu bahwa setiap perusahaan modern membutuhkan karyawan yang memiliki keunggulan skill dengan jumlah besar.

________________________________________

[1] Akuisisi adalah pembelian suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau oleh kelompok investor. Akuisisi sering digunakan untuk menjaga ketersediaan pasokan bahan baku atau jaminan produk akan diserap oleh pasar.

Tags : , , ,

Leave a Reply