Posted On January 31, 2017 By In Budaya, Headline, Humaniora And 489 Views

Gus Dur dan Imlek: Sebuah Refleksi Sederhana

Perayaan tahun baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi masyarakat Tionghoa. Perayaan ini dirayakan setiap tanggal 1 bulan ke-1 penanggalan kalender Cina dan diakhiri dengan Cap Go Meh pada hari ke-15. Perayaan Tahun Baru Imlek hampir dirayakan di  seluruh pelosok dunia, mengingat banyaknya warga keturunan Tionghoa yang menetap di berbagai negara. Bahkan di beberapa negara, tahun baru Imlek telah resmi masuk ke kalender libur nasional. Indonesia termasuk salah satu negara yang dimaksud tersebut.

Ditilik dari sejarahnya, perayaan tahun baru Imlek di Indonesia sejatinya sudah diatur oleh presiden pertama Soekarno. Soekarno kala itu memperbolehkan diadakannya perayaan tahun baru Imlek dan tiga hari besar lainnya berdasarkan kalender Cina. Namun, kebijakan ini berganti pada masa Orde Baru.  Rezim represif Suharto membatasi perayaan kultural dan ibadah masyarakat Tionghoa. Mereka berdalih bahwa segala perayaan tersebut dapat menghambat proses asimilasi dan peleburan masyarakat keturunan Tionghoa dengan penduduk pribumi. Untunglah, pada tahun 2001 Presiden Abdurrahman Wahid mencabut peraturan tersebut. Inpres No. 14/1967 tentang pelarangan pementasan kebudayaan Tionghoa di muka umum sudah tidak diberlakukan lagi.

Kebijakaan ini menjadi titik balik bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia untuk menggelar perayaan kultural mereka secara terbuka. Imlek dirayakan bukan sekadar sebagai perayaan agama, namun lebih sebagai ekspresi budaya dan tradisi. Hal ini membuat Imlek dapat dirayakan oleh segala lapis masyarakat. Perayaan Imlek tidak hanya diadakan di klenteng, namun juga semarak di gereja, masjid, bahkan juga dikirabkan oleh banyak komunitas. Perayaan Imlek selalu ditandai dengan pernaik-pernik berwarna merah, berkumpul bersama keluarga, pementasan barongsai dan pembagian angpau.

Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) adalah salah satu wadah yang turut serta menyelenggarakan perayaan Imlek di Indonesia. Bagi mereka,  Imlek bukanlah perayaan keagamaan. Imlek adalah sebuah  tradisi. Menurut mereka, dari akar budayanya Imlek dirayakan sebagai penyambutan musim semi yang sudah sejak ribuan tahun yang lalu dilakukan oleh leluhur mereka.

Tidak jauh berbeda dengan perayaan hari besar kepercayaan lainnya, tahun baru Imlek juga dimaknai sebagai momen untuk berkumpul bersama keluarga sekali dalam setahun. Imlek sekaligus simbol tumbuhnya harapan baru karena bersamaan dengan datangnya musim semi. Tahun baru Imlek selalu lekat dengan warna merah yang menandakan harapan untuk selalu diberikan kehidupan yang bahagia, makmur, dan sejahtera.

 

Belajar dari Gus Dur

Ketika memperbincangkan perayaan tahun baru Imlek di Indonesia, kita tak mungkin begitu saja melupakan sebuah nama. Nama itu dimiliki seorang yang membela masyarakat Tionghoa untuk kembali memperoleh keadilan. Nama itu adalah milik dia yang memperjuangkan masyarakat Tionghoa untuk bisa beribadah dan melaksanakan upacara keagamaannya secara bebas di Indonesia. Nama itu adalah milik dia yang mendapat julukan Bapak Tionghoa Indonesia. Nama itu adalah Abdurrahman Wahid atau yang akrab kita panggil Gus Dur.

Gus Dur bukanlah milik satu golongan semata. Gus Dur dicintai oleh semua orang dari berbagai suku, agama, dan keyakinan. Hal ini dikarenakan Gus Dur selalu konsisten membela setiap orang yang mendapat ketidakadilan. Dari sejak menjadi ketua PBNU hingga lengser dari kursi Presiden, beliau tetap aktif bersuara untuk membela kepentingan kaum minoritas.

Gus Dur selalu mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat etnis Tionghoa. Selain kebijakan mengenai perayaan tahun baru Imlek, Gus Dur juga berperan besar dalam mengesahkan agama Kong Hu Cu sebagai agama keenam yang diakui Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masyarakat Tionghoa, yang selama ini belum terpenuhi haknya sebagai warga negara Indonesia, bisa menjalankan kewajiban ajaran agama dan kepercayaannya secara bebas.

Dari perayaan tahun baru Imlek dan hubungannya dengan perjuangan Gus Dur, setidaknya kita bisa petik beberapa pelajaran. Pertama, kita bisa belajar dari figur Gus Dur yang selalu konsisten dalam memperjuangan kepentingan kaum minoritas untuk mendapatkan keadilan. Bagi Gus Dur, Etnis Tionghoa adalah salah satu kekayaan kultural yang dimiliki negara Indonesia. Jamaknya warga bangsa di Indonesia memberikan peluang yang lebih besar untuk bersama-sama membangun negara. Maka dari itu, persatuan antar suku dan etnis mutlak diperlukan oleh negara Indonesia. Bagaimana kita bisa bersatu jika masih ada golongan yang mendapat perlakuan tidak adil?

Kedua, kita bisa belajar dari semangat perayaan Imlek, yaitu sikap positif yang ditumbuhkan oleh masyarakat Tionghoa untuk merajut harapan yang baru di tahun yang juga baru. Dengan energi positif tersebut, kita tentu saja akan memiliki optimisme dan energi yang baik untuk bersama-sama membangun bangsa.

Melalui perayaan Imlek, kita bisa mengingat kembali perjuangan dan jasa Gus Dur. Sejenak mengingat dan berefleksi menjadi suatu titik penting dalam  melanjutkan perjuangan Gus Dur untuk membela kaum minoritas dan mewujudkan rasa keadilan bagi semua masyarakat.  Sama seperti perayaan dan ritual peribadatan agama lainnya, Imlek tidak hanya sekedar perayaan tanpa makna. Bersama kita jadikan Imlek sebagai ajang persatuan dan kesatuan demi membangun bangsa dan negara Indonesia. []

Tags : ,

About

Lurah Pesantren Ciganjur periode 2017-2018.

Leave a Reply