Posted On March 10, 2017 By In Humaniora And 492 Views

Kasih Sayang Sebagai Modal Kebahagiaan

“Yang kalian butuhkan hanyalah cinta”

The Beatles

Pendahuluan

Di tengah Februari tahun ini, Masyarakat Indonesia dihadapkan pada momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Fakta yang terjadi di lapangan adalah semakin kuatnya sentimen kebencian sebagian masyarakat terhadap yang lain. Sikap labelling menjadi lumrah dan merasa bisa dibenarkan. Suhu panas politik prosedural ini diprediksi tidak akan cepat reda sampai gelaran Pemilihan Presiden di tahun 2019 nanti. Banyak orang bertanya, di mana akar permasalahan ini dimulai dan bagaimana pula penyelesaiannya?

Pudarnya Kasih Sekaligus Sayang

Manusia adalah makhluk yang dibekali perasaan dan akal. Namun, seringkali kita kurang bisa menggunakan perasaan dan akal tersebut secara arif. Yang muncul di permukaan adalah sikap pembenaran diri dan menafikan keniscayaan perbedaan yang lain. Mereka yang mengklaim dirinya paling benar sering kali lupa bahwa kebenaran itu ada banyak dan “tercecer“ di jalanan. Alasan yang paling mudah mengapa bisa sedemikian adalah ketiadaan rasa kasih dan rasa sayang. Individu yang merasa dirinya kuat tanpa individu yang lain akan sering lupa bahwa ada Sang Kuasa di luar dirinya yang mampu melumatnya kapan saja. Namun, Sang Kuasa bersifat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini yang membedakan antara manusia dan Sang Kuasa dengan segala kemahaannya.

Kasih di tingkatan manusia bisa diartikan secara sederhana sebagai sikap kepedulian terhadap yang lain, sedangkan Sayang bisa diartikan secara sederhana sebagai bukti rasa empati terhadap yang lain. Secara harfiah bisa saja diartikan seperti itu, namun pengalaman hidup individual juga bisa mengandaikan lapis arti dan makna yang berbeda pula. Kita yang hidup di awal abad 21 ini punya kecenderungan pembuktian kasih dan sayang lewat medium-medium di luar dirinya, Katakanlah seperti media sosial dan bingkai potret kegiatan penyaluran bantuan sosial. Walau sudah bagus, hal seperti itu dikhawatirkan akan menghilangkan substansi dari kasih dan sayang itu sendiri.

Lalu apa yang mampu menjadi obat penawar “sakit“ ini? Kalau ditelusuri, maka jawabnya adalah cinta. Meminjam istilah band legendaris, The Beatles: “Yang kalian butuhkan hanyalah cinta”. Pengertian cinta bisa diartikan “perasaan hilangnya kemelekatan diri”, maka akan menjelma sikap afeksi (perasaan) pada di luar dirinya. Jika berkaitan dengan sosial maka akan muncul sikap altruisme (rasa menyatu dengan masyarakat). Itu semua bisa menciptakan kasih dan sayang menjadi sayap kebahagiaan bersama.

Bagi Erich Fromm, dalam mewujudkan cinta, kita membutuhkan 4 syarat perwujudan;

  1. Knowledge (saling mengenal)
  2. Respect ( saling menghormati)
  3. Care ( kepedulian)
  4. Responsibility (tanggung jawab)

Terlihat di sini Erich Fromm sangat menekankan pada eksistensi di luar diri individu yang dijadikan objek cinta. Olehnya hampir mirip juga, rasa kasih sayang dalam perwujudannya akan lebih cenderung bisa tersampaikannya kepada yang lain. Dan perlu digarisbawahi, untuk urusan kasih sayang bahkan cinta pun tidak bisa diukur secara empiris. Ini mungkin dapat diukur dengan perasaan (emosi), di dalamnya ada banyak instrumen yang bisa menjadi indikator non empiris seperti kondisi psikologis, keintiman emosional, nafsu, passion, komitmen, pelayanan, dan teleologisnya.

Kebahagiaan dan Kasih Sayang

Ketika kasih sayang sudah menyatu dengan kita, maka selanjutnya biar proses kasih sayang dan cinta yang mengalir di kehidupan manusia. Individu satu dengan individu lain tidak akan mencakar satu sama sama lain, di benak mereka tidak terlintas rasa kekhawatiran apalagi ketakutan dengan adanya eksistensi individu baru lainnya. Mereka bersatu, riang gembira dalam menjalani hidup bersama.

Menjadikan kasih sayang sebagai modal kebahagiaan bisa menjadi kenyataan jika diawali dengan welas asih pada sesama, berpikir dengan jernih, dan mencipta kedamaian dalam diri. Kebahagiaan di sini pengandaiannya adalah ketika seseorang mampu mensyukuri segala yang ada. Ketika kebahagiaan tadi tercermin lewat pikiran, sikap, dan karakter seseorang. Maka dengan sendirinya “cermin-cermin“ tadi saling memantul sekaligus memberi warna dan dampak langsung kepada individu yang lain.

Kebahagiaan mampu menerbangtinggikan imajinasi kita akan apa makna kehidupan. Banyak orang yang mendefinisikan apa dan bagaimana kebahagiaan bekerja. Namun, kebanyakan dari  mereka sepakat bahwa kebahagiaan akan terwujud dengan adanya harmoni dalam diri dan di luar diri. Boleh saja diandaikan, kita sedang menata hasrat, tujuan, tindak laku, dan karakter yang bersumber dari dalam. Semua itu kemudian mengalir ke luar diri kita. Jadi ketika cara pandang kita pada apa yang di dalam diri sudah tepat, maka cara pandang kita terhadap dunia luar juga akan tepat.

Solusi dan Penutup

Ketika akar permasalahan kondisi faktual sudah kita temukan, semisal ketiadaan rasa kasih dan rasa sayang, maka yang harus kita lakukan adalah memberi solusi sebagai buah kehidupan. Meminjam lirik-lirik lagu Wind of change milik band Scorpion dan  lirik lagu Imagine milik John Lennon, yang memberikan pengandaian kita akan makna kebahagiaan nan perdamaiaan, bepikir jernih sekaligus berimajinasi terlebih dahulu bisa menjadi langkah yang konkret bagi kita. Banyak dari kita “miskin“ imajinasi ditambah kemalasan berpikir, yang banyak hanya rajin mengamini pendapat orang lain sambil sambil menutup rapat pintu komunikasi.

Kedua, membuka pintu-pintu dialog dengan pihak lain. Bagi pihak yang merasa bertikai diharap punya kelapangan hati untuk membuka diri. Masing-masing harus mengikis dinding tebal sekat perbedaan yang ada. Ketika kedua belah pihak sudah berada di standing point maka akan clear pemberitaan dan fakta yang ada. Merujuk kembali ke teori Erich Fromm tentang cinta, diawali dengan saling mengenal dengan baik maka akan tercipta suasana tanpa prasangka buruk.

Ketiga, melakukan tanggung jawab sosial. Ketika sudah menjalani kontrak sosial paska dialog, maka akan berlanjut pada peneguhan komitmen dalam jangka panjang dan pendek. Momen-momen yang ada harus dimanfaatkan dengan diisi rasa kasih dan rasa sayang kepada siapapun. Mereka sama-sama menghormati satu dengan lainnya.

Nah, ketika semua proses berjalan lancar sesuai dengan “imajinasi“ positif bersama, maka akan terwujudlah masyarakat bahagia. Masyarakat tersebut tidak terbayangi ketakutan konflik batin apalagi konflik fisik. Yang ada di benak mereka hanya cinta, cinta dan cinta, tak ada yang lain. Mereka merasa bersatu dan dipersatukan oleh cinta. Kehidupan mereka penuh warna kasih dan sayang sehingga tak ada kesempatan memberi labelling pada orang lain. Saya percaya suatu saat ini akan benar-benar terjadi di bumi ini. Bagaimana dengan kamu?

Wallahu a’lam bisshawab.

Tags : ,

Leave a Reply