Posted On December 9, 2016 By In Keislaman, Tasawuf And 605 Views

Kembali Pada Allah

Pengajian Kitab al-Qashd al-Mujarrad [1]

Majelis ilmu yang paling luhur adalah majelis yang mengajak kita untuk merenung di medan ilmu tauhid. Merenung yang dimaksud adalah perenungan segala sesuatu yang dapat membuat kita sadar dan semakin yakin akan keesaan Allah. Segala ciptaan Allah dapat dijadikan objek perenungan. Perenungan atas ciptaan Allah dilakukan tidak sebatas pada wujud atau objek ciptaan tersebut, tetapi dengan cara merenungkan apa yang tersembunyi atau hikmah di balik penciptaan makhluk tersebut. Karena sesungguhnya di balik  segala ciptaan-Nya, tecermin Nama-nama, Perbuatan-perbuatan, dan Sifat-sifat Allah, baik makhluk di alam nyata, maupun makhluk di alam gaib (alam malakut, alam jabarut, dan alam lahut) yang wajib kita yakini keberadaanya.

Ketika kita melakukan perenungan di wilayah tauhid, sesungguhnya semuanya akan kembali pada Allah, Tuhan yang Mahasatu dan Meliputi segala-galanya. Dari sanalah, kita menyadari keagungan Allah, kita tersadar dan mengucap alhamdu lillāhi rabbi l-ʽālamīn, memuji keagungan-Nya. Seluruh ciptaan Allah selalu bertasbih dan memuji-Nya karena Allah Maha Sempurna, Maha Terpuji dan tidak mempunyai cacat apapun.

Seharusnya kita melihat wujud alam semesta, kemudian kita berfikir bahwa di balik semua ini pasti ada pencipta, yaitu Allah, baru kemudian kita mengucap alhamdu, memuji-Nya. Mestinya, memuji itu adalah puncak dari akumulasi perenungan, kesadaran, dan keimanan. Namun Allah tidak berkehendak demikian. Kita langsung diperintahkan untuk mengucapkan alẖamdu lillāh. Kita ibarat bayi yang baru lahir dan langsung disuruh memuji Allah. Hal tersebut karena cinta Allah kepada kita. Seakan Allah berfirman, “Wahai hambaku, langsung saja kau memuji-Ku dengan mengucap hamdalah. Sedemikian hebatnya Allah melimpahkan cintanya kepada manusia.

Tawakal (berserah diri kepada Allah) itu perbuatan hati, bukan fikiran. Fungsi fikiran adalah merenung dan bergerak, sedangkan hati adalah tempat tawakal. Oleh karena itu, jangan sampai fikiran kita yang bertawakal. Sementara itu, tauhid adalah ucapan hati. Pintu mengingat Allah adalah tafakur. Melalui tafakur, kita mengingat Allah, dan pada akhirnya orang yang merenungkan ciptaan-Nya sejatinya sedang berzikir.

Objek perenungan yang kedua adalah nafsu. Manusia pada dasarnya penuh dengan syahwat. Pernahkah kita merenungkan kesenangan-kesenangan kita selama ini? Lantas bagaimana cara kita mengendalikan nafsu kita dan bersikap tegas pada diri sendiri? Hal itu adalah bagian dari proses merenung. Jangan sampai kita semakin memanjakan diri dengan kesenangan terus-menerus. Dampak buruk dari memanjakan nafsu tidaklah sedikit. Dampak yang paling destruktif adalah lalai akan Allah.

Setelah menyadari kelalaian kita, langkah selanjutanya adalah merenungkan kelalaian kita akan Allah. Inilah objek perenungan yang ketiga. Mengapa kita ingat kepada Allah hanya sebentar, lalu setelah itu lupa lagi? Apa penyebabnya? Itulah yang kita renungkan. Banyak kitab yang membahas tentang sebab-sebab lalai akan Allah. Tapi apakah kita pernah merenungkan kelalaian kita kepada-Nya?

Objek perenungan yang keempat adalah hafawāt, yakni pembiaran diri terus melakukan dosa. Inilah objek yang paling penting untuk direnungkan, karena ia pasti berhubungan dengan tauhid. Untuk memulai, perenungan harus diawali dengan kesadaran. Pintu masuk untuk merenung adalah kesadaran. Jika sadar, orang pasti akan merenung.

Sementara itu, pintu kesadaran adalah zuhud. Zuhud adalah menepiskan kecintaan kita pada hal-hal yang haram, hal yang disenangi nafsu kita. Zuhud berarti menepiskan hal yang sifatnya duniawi dan tidak mementingkan apapun yang muncul dari dalam hati selain Allah. Adapun pintu zuhud adalah kanaah (qanāʽah), yaitu menerima dengan lapang dada. Apakah orang yang kanaah berarti pasif dan tidak kreatif? Orang kanaah adalah orang yang mengenal dirinya, sehingga ia merasa rida, dan saat itulah ia sesungguhnya sedang menepis kecintaanya kepada selain Allah. Dengan demikian, ia akan merasa ringan untuk melakukan segala amal kebaikan.

Pintu kanaah adalah mencari bekal akhirat, karena tidak ada yang abadi di dunia ini; segalanya ilusif. Jika orang menyadari bahwa segalanya hanyalah ilusi pasti akan memilih sesuatu yang hakiki, yaitu akhirat. Pintu akhirat adalah takwa, dan pintu takwa adalah dunia, yakni dunia bagi orang yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah saat ia berada di dunia ini, tempat di mana manusia mengabdi dan menjalankan aturan-aturan Allah. Kebalikan dari akhirat adalah dunia, dan pintu dunia adalah hawa nafsu. Jika orang ingin menikmati dunia, maka dia harus memakai hawa nafsu; tanpanya ia tidak akan bisa menikmati dunia.

Pintu hawa nafsu adalah ambisi. Ambisi berbeda dengan semangat: ambisi adalah semangat tanpa menyertakan Allah. Semangat yang sejati adalah ketika seseorang bangkit menuju Allah dengan nafsu yang telah terkendali. Seringkali orang keliru antara nafsu atau semangat. Jika orang mencari keuntungan di balik kepentingan Tuhan tadi, maka itu nafsu. Banyak orang beramai-ramai mengatasnamakan Tuhan, padahal tujuannya adalah keuntungan dunia dan ambisi.

Ambisi seseorang berawal dari (terlalu banyak) angan-angan. Ketika orang berangan-angan, hanya akan ada dua kemungkinan yang pada  akhirnya ia dapatkan. Pertama, ia akan menangis karena angan-angannya tidak tercapai. Kedua, ia akan senang karena berhasil mencapai angan-angannya. Seseorang yang punya hobi melamun (berimajinasi) telah terjangkit penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Cara penyembuhannya hanya dua: kecintaan dan kerinduan yang dahsyat kepada Allah atau ancaman siksaan Allah yang amat pedih. Tanpa hal tersebut, ia tidak bisa disembuhkan.

Asal-muasal lamunan adalah cinta dunia, dan asal muasal cinta dunia adalah sifat lalai, yakni lalai kepada Allah. Imajinasi manusia memang sangat luar biasa, bahkan melalui kecanggihan teknologi saat ini, imajinasi telah menjadi industri dan bernilai ekonomi. Jual-beli lamunan dan imajinasi sampai hari ini sudah sangat kronis. Harus ada sesuatu yang membuat manusia senantiasa merasa rindu dan sekaligus takut kepada Allah.[]

———

[1] Artikel ini adalah hasil transkrip penjelasan KH. Luqman Hakim atas kitab al-Qashd al-Mujarrad karya Imam Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari halaman 84 (edisi Dār Jawāmiʽ al-Kalim) di Masjid Al-Munawwaroh, Ciganjur, Jakarta Selatan. Kalimat-kalimat yang dicetak miring dalam artikel adalah terjemahan teks kitab tersebut.

About

Pengelola website pesantrenciganjur.org

Leave a Reply