Posted On April 21, 2017 By In Sejarah And 268 Views

Maulid Nabi Simbol Pembebasan

Mengawali artikel ini, penulis akan mengutip sebuah ayat yang terjemahannya adalah sebagai berikut: “Dan ingatkanlah mereka, wahai Musa, tentang hari-hari Allah (ayyāmillāh), karena pada hal itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang sabar dan pandai bersyukur.” (QS. Ibrahim: 5).

Sebagian orang memahami ayat ini secara literal: perintah mengingatkan dalam ayat tersebut hanya berlaku untuk Nabi Musa beserta masyarakat yang menjadi obyek dakwahnya. Pemahaman ini biasanya terpaku pada kaidah al-‘ibrah bi khushūs as-sabab la bi ‘umūm al-lafzh; yang dikehendaki dari sebuah teks adalah kekhususan sebab yang melatarbelakangi kemunculan teks tersebut, bukan pada ketentuan teks yang ditujukan untuk umum.

Dalam hal ini, penulis, sebaliknya, lebih cenderung mengikuti penafsiran lain yang mengacu kepada kaidah al-‘ibrah bi ‘umūm al-lafzh lā bi khushūs as-sabab dan memandang ayat ini sebagai ajaran yang tidak temporal; artinya, perintah mengingatkan dalam ayat di atas ditujukan, bukan hanya kepada nabi Musa beserta kaumnya, melainkan juga dapat diberlakukan  setiap saat dan kepada semua lapisan masyarakat yang mempercayai ajaran al-Qur’an.

Peringatan akan hari-hari Allah (ayyāmillāh) biasa ditafsiri para ulama sebagai berbagai kenikmatan yang diberikan Allah. al-Razi menafsirinya sebagai al-waqāiʽ al-‘azhīmah, “momen-momen fenomenal”. Ini juga berlaku pada peringatan hari kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW yang, jelas, merupakan momentum yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia pada umumnya serta pertumbuhan dan perkembangan umat Islam pada khususnya.

Kelahiran Rasulullah SAW ditandai dengan peristiwa-peristiwa penting, heboh dan cenderung tak bisa dinalar akal. Di antara peristiwa-peristiwa tersebut adalah, pertama, kehancuran tentara bergajah pimpinan Abrahah al-Asyram dari habasyah  yang ingin menghancurkan Kakbah dengan niatan mengalihkan pusat peribadatan haji dari yang semula berada di Makkah ke gereja-gereja buatannya di negeri Yaman. Peristiwa yang kemudian diabadikan dalam surat al-Fīl ini merupakan simbol terbebasnya penduduk Makkah khususnya dari kezaliman dan penindasan tirani Abrahah. Dalam sejarah tercatat bahwa menghadapi serangan Abrahah tersebut, penduduk Makkah—yang pada waktu itu dipimpin oleh Abdul Muthallib, yang tidak lain adalah kakek Nabi Muhammad—hanya bersikap pasrah dan tidak melakukan perlawanan fisik apapun. Hal ini dilakukan mengingat jumlah pasukan yang tidak sebanding serta kemampuan penduduk Makkah untuk berperang kala itu memang tidak sepadan dengan tentara Abrahah. Bahkan dalam upaya diplomasinya, Abdul Muthallib justru meminta agar dua ratus onta miliknya yang telah dirampas oleh delegasi Abrahah dikembalikan lagi kepadanya. Dia tidak mempermasalahkan kedatangan Abrahah yang akan menghancurkan Kakbah; dia hanya mengatakan bahwa yang akan menjaga Kakbah adalah Pemiliknya.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari sejarah di atas adalah bahwa memaksa seseorang untuk untuk mengikuti agama maupun ideologi tertentu hendaknya tidak dilakukan. Prinsip inilah yang kelak di kemudian hari ditumbuh-kembangkan oleh agama Islam. Secara doktrinal, Islam memberikan tawaran kepada penduduk daerah yang ditaklukkan atau dikuasai oleh kaum muslimin dengan memilih satu dari dua hal: hidup berdampingan secara damai bersama kaum muslimin dengan konsekuensi membayar pajak (jizyah), atau memeluk agama Islam. Sebelum Islam lahir, praktik pemaksaan ideologi oleh pihak penguasa suatu daerah kerap terjadi. Sebagai contoh, Dzu Nuwas, seorang penguasa beragama Yahudi, dengan kekuatan militernya memaksa penduduk Najran yang beragama Nasrani untuk memeluk agama mereka. Ketika penduduk Najran menolak, Dzu Nuwas beserta pasukannya malah membunuh mereka serta memasukkannya ke dalam parit raksasa, bahkan tidak sedikit dari penduduk Najran  yang dibakar. Peristiwa pemaksaan ideologi ini kemudian diabadikan oleh al-Qur’an dengan istilah ashẖāb al-ukhdūd (“para pembuat parit”).

Kedua, ditemukannya kembali sumber mata air Zamzam. Sebelum tahun kelahiran Nabi Muhammad, terjadi juga peristiwa penting yang jarang diketahui oleh banyak orang. Ketika tidur di area Hijir Ismail, Abdul Muthallib bermimpi diperintahkan oleh seseorang untuk menggali sumur Zamzam yang pada waktu itu ditimbun di antara dua berhala oleh orang-orang dari suku Jurhum sebelum mereka diusir dari Makkah. Setelah meyakini bahwa mimpi tersebut bukan bunga tidur semata, Abdul Muthallib dengan ditemani putranya melaksanakan penggalian tersebut. Hasilnya, memancarlah sumber air yang deras dan siap untuk digunakan sebagai pengairan warga. Peristiwa ini menandakan bahwa benih-benih kepemimpinan, yang kelak diemban oleh Rasulullah SAW, telah mulai tertanam sejak kakek moyang beliau yang berusaha membebaskan masyarakat dari kekeringan.

Ketiga, wafatnya Abdullah bin Abdul Muthallib. Tak kalah penting lagi adalah peristiwa wafatnya Ayahanda Rasulullah SAW, Abdullah bin Abdul Muthallib, beberapa bulan sebelum beliau dilahirkan. Tanpa harus menyebutkan penyebab wafat sang ayah, nampak sekali bahwa calon pemimpin dunia ini akan mendapat bimbingan dan pendidikan bukan dari figur sang ayah sebagaimana kebanyakan manusia. Melalui peristiwa ini, Allah hendak menyatakan bahwa Muhammad akan dibimbing dan dididik langsung oleh-Nya sejak dini tanpa melalui proses pendidikan sebagaimana umumnya.

Keempat, keajaiban lain yang menandai kelahiran rasul terakhir, Muhammad SAW, adalah terguncangnya singgasana penguasa Byzantium serta padamnya api sesembahan orang-orang Majusi yang telah lama mereka jadikan objek pemujaan. Peristiwa ini menandakan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk meluruskan dan membebaskan umat manusia dari dominasi tirani dan rezim yang begitu kuat mencengkeram serta mendominasi percaturan peradaban dunia saat itu. Di samping itu, misi yang akan disampaikan oleh utusan pamungkas ini tidak lain adalah membebaskan umat manusia dari pemahaman teologi yang salah.

Kelima, pertemuan Ibunda Rasulullah SAW dengan wanita-wanita mulia. Peristiwa suprarasional lain yang mengiringi kelahiran Rasulullah SAW adalah perjumpaan Aminah dengan wanita-wanita suci (athyāf asy-syarīfah). Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa pada saat akan melahirkan, Aminah dihinggapi rasa takut. Tidak berselang lama, ia merasa ada cahaya yang menerangi dunianya, lalu terdapat beberapa wanita yang mengelilinginya dan yang mulanya ia kira adalah putri-putri Bani Hasyim; ternyata, mereka adalah Maryam putri Imran, Asiyah istri Fir’aun, dan Hajar ibu Nabi Ismail as. Dua simbol tersebut (melihat cahaya dan bertemu dengan para wanita mulia) melambangkan bahwa sang nabi terakhir membawa misi yang sangat besar: membebaskan umat manusia dari kegelapan dengan menampilkan akhlak-akhlak mulia. Kegelapan era jahiliyah ditandai oleh perlakuan masyarakat yang cenderung diskriminatif antara pria dan wanita, fanatisme kesukuan yang begitu kental (‘ashabiyah), kemorosotan moral dengan maraknya para penggemar minuman keras, berjudi, berfoya-foya serta merebaknya perzinaan. Lambat laun, kegelapan ini semakin berkurang dengan kelahiran dan diutusnya pemimpin umat yang tetap mengedepankan keluhuran budi dan kemuliaan etika sebagai sesama manusia.

Dari uraian di atas, nampak jelas bahwa pada saat kelahiran Rasulullah SAW saja, telah ditemukan banyak simbol pembebasan masyarakat dari berbagai belenggu tirani kekuasaan, pemaksaan ideologi, kemerosotan moral, kemiskinan dan hal-hal yang dinyatakan dengan kegelapan. Misi kenabian dan kepemimpinan yang diemban oleh Rasulullah pada akhirnya meraih kesuksesan yang gemilang  dan sempurna dengan tetap mengedepankan keluhuran budi pekerti dan kemuliaan akhlak. Sekarang Rasulullah SAW telah tiada. Sebagai umatnya, kita harus meneladani serta meniru akhlak Rasulullah yang sedemikian mulia demi “pembebasan umat manusia secara hakiki”, betapa pun ini bukan perkara yang mudah.[]

Tags : , ,

About

Alumni Pesantren Ciganjur, tinggal di Jawa Tengah.

Leave a Reply