Posted On February 24, 2017 By In Headline, Keislaman, Tasawuf And 688 Views

Memenuhi Tuntutan Allah

خير ما تطلبه منه ما هو طالبه منك

Sebaik baik apa yang kau tuntut dari Allah yaitu apa yang Allah tuntut darimu

Manusia hidup di dunia ini mempunyai banyak tuntutan, dan kadang dia mempunyai prioritas tersendiri terkait tuntunan tersebut, mana yang paling bagus, paling hebat, dan seterusnya. Tetapi ternyata, dari sekian banyak tuntutan itu, tuntutan yang paling baik adalah memenuhi tuntutan Allah. Ada dua tuntutan Allah pada manusia, baik pada orang mukmin terendah sampai yang tertinggi, yakni para nabi dan para wali: pertama, al-shidq fī l-ʽubūdiyyah, benar atau kesungguhan dalam menghamba. Seperti yang telah dijelaskan di dalam Alquran, Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” (QS. al-Dzariyat: 56). Berarti yang paling baik adalah menghamba dengan benar, beribadah dengan benar secara lahir dan batin; juga, benar-benar merasakan bahwa anā ‘abduka, “saya hamba-Mu, Tuhan” atau bahwa rodhītu bi llāhi rabbā, “saya rida Allah sebagai Tuhan.” Sebenarnya pertanyaan sejati terhadap diri kita sendiri adalah apakah selama ini kita telah benar dalam menghamba? Nyatanya, kita belum benar-benar menghamba pada Allah. Buktinya: kita masih rida terhadap nafsu kita, dunia kita, imajinasi dan impian-impian kita; kita belum rida Allah jadi Tuhan, dan kita semata hamba-Nya.

Tuntutan yang kedua, iqāmat ẖuqūq al-rubūbiyyah, melaksanakan hak-hak ketuhanan. Allah memang berhak menjadi Tuhan, dan kita harus menunaikan hak-Nya. Caranya? Dengan menegakkan kehambaan kita, sebagaimana dijelaskan di atas. Misalnya, Allah berhak diingat; maka, kita harus menegakkan hak tersebut dengan terus berzikir karena zikir adalah hak-Nya. Demikian pula, hak untuk memberikan manfaat dan mudarat adalah hanya milik Allah, dan hak ini pun juga harus kita tegakkan. Selama ini, kita kesusahan untuk menegakkan hak terakhir ini sehingga kita menjadi susah dan takut karena kita menganggap yang memberikan mudarat dan manfaat adalah mahluk seperti manusia, institusi, alam, dst. Ini sebenarnya adalah sebuah kegilaan spiritual yang selama ini kita pelihara. Dengan asumsi seperti itu maka akan muncul kegelisahan-kegelisahan, dan itu berarti kita masih belum melaksanakan hak-hak Allah.

Sebenarnya seluruh kandungan Alquran dan Sunah nabi teringkas dalam dua poin itu: benar dalam menghamba dan menegakkan hak-hak Allah. Dan itu pula tujuan hidup kita sebenarnya. Jadi, kalau segala tetesan keringat dan kerja keras kita tidak didasarkan pada keinginan atau tuntutan Allah pada kita, maka itu artinya kita belum mencapai kesempurnaan, tujuan dan arah dari hidup kita sendiri. Kelak di akhirat, kita tidak akan ditanya tentang sifat-sifat Allah, tidak pula Kada dan Kadar-Nya; sebaliknya, kita akan ditanya apakah kita sudah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Jadi, seluruh kehidupan tidak terlepas dari larangan dan perintah-Nya.

Ketika orang menyadari bahwa hidup hanyalah tentang melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, orang biasanya akan kecewa, menangis, dan sedih karena merasakan kesalahan dan dosa-dosa di masa lalu. Nah, kepada orang yang semacam ini, Ibn ‘Athaillah mengingatkan,

الحزن على فقدان الطاعة مع عدم النهوض إليها من علامات الاغترار

Merasa susah karena kehilangan [kesempatan berbuat] taat tanpa bangkit menjadi taat itu termasuk tipudaya

Orang yang menangisi dosa-dosa yang telah dilakukan, tapi sudah puas dengan pengakuan kesalahan-kesalahan seperti itu, tanpa bangkit untuk  beribadah, orang semacam itu termasuk orang yang terkena tipudaya; artinya, hidupnya sedang tertipu. Ada perbedaan antara susah dan takut: orang merasakan kesusahan terkait hal-hal di masa lalu, sedangkan takut adalah semacam kesusahan, tapi pada hal-hal di masa depan. Misal, orang takut Trump jadi presiden Amerika Serikat. Sebenarnya, kita boleh takut hanya pada Allah karena, seperti disebut tadi, hanya Dia yang memberikan mudarat dan manfaat.

Abu Sulaiman al-Darani mengatakan, “menangisi dosa itu bukanlah tetesan air mata,” apalagi ketika disorot kamera. Kata al-Darani lagi, “yang disebut menangis adalah engkau meninggalkan apa yang engkau tangisi.” Kita menangisi dosa-dosa berarti kita harus meninggalkan dosa-dosa itu, karena memang itulah yang kita tangisi; jangan malah bangga menangis, apalagi menganggap tangisan sebagai puncak spiritual; sama sekali bukan; menangis itu hanya akibat.

Para sufi sendiri lebih menekankan harapan (rajā’) daripada takut (khawf). Makanya, dalam Alquran disebutkan, “Sesungguhnya para wali Allah tidak merasa takut dan tidak pula bersedih hati.” (QS. Yunus: 62). Para wali tidak merasakan kesedihan akan hal yang telah berlalu dan tidak pula merasakan ketakutan akan apapun di masa depan karena maqām-nya sudah berubah menjadi harapan.

Harapan itu sendiri sebenarnya bertingkat-tingkat. Tingkat pertama, yarjūna tijāratan lan tabūr (QS. Fathir: 29), mengharapkan “perdagangan yang tak pernah bangkrut”, yaitu berdagang dengan Allah, bukan dengan cara melakukan segala macam transaksi ekonomi sambil dilabeli nama “syariah”, melainkan dengan cara melakukan amal kebaikan dengan tujuan mendapat pahala. Inilah “perdagangan yang tak pernah bangkrut”, laba terus. Tingkat kedua, ketika orang menyadari bahwa isi pahala itu sebenarnya adalah anugerah dan rahmat dari Tuhan. Maka kemudian dia mengharapkan anugerah (fadhl) dan rahmat Tuhan, atau yarjū raẖmata rabbihi (QS. al-Zumar: 9). Tingkat ketiga ialah ketika orang menyadari bahwa anugerah dan rahmat itu sendiri hanyalah alat Tuhan; maka, dia pun mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, yarjū liqā’a rabbihi (QS. al-Kahfi: 110). Tingkat keempat ialah ketika orang menyadari bahwa yang akan dia temui adalah Allah; maka, dia pun hanya mengharapkan Allah, yarjū Llāha (QS. al-Ahzab: 21), dan mengharapkan Allah berarti mengharapkan perjumpaan dengan-Nya, yarjū liqā’a Llāhi, dan siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah, waktunya pasti tiba (QS. al-‘Ankabut: 5). Harapan biasanya membuat semangat bangkit, dan kebangkitan itu sendiri juga disertai harapan. Hanya saja, jangan mengharapkan hal-hal remeh; harapan-harapan kita harus naik terus.[]

 

Artikel ini adalah hasil transkrip penjelasan KH. M. Luqman Hakim atas kitab al-Hikam karya Imam Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari pada pengajian rutin di Masjid al-Munawwaroh Ciganjur.

About

Pengelola website pesantrenciganjur.org

Leave a Reply