Posted On January 25, 2017 By In Budaya, Headline, Humaniora And 472 Views

Menebar Damai, Menuai Rahmat

Syahdan, semua orang di kota ini menanyakan perihal kepergian Damai dan Rahmat. “Di mana damai? Ke mana perginya Rahmat?” Dua sejoli itu telah pergi dari kota ini!

“Tidak!”, kata Gus Dur. “Damai tidak pergi, dia ada di relung dirimu.”

Begitu santri Pesantren Ciganjur mengimajinasikan percakapan Gus Dur dengan orang-orang bingung di seluruh negeri ini. Mereka barangkali tidak mengerti betul siapa Gus Dur tapi mereka berhasil memproyeksikan sosok Gus Dur yang paling murni dengan cara polos pula.

Orang sering melihat sesuatu seperti tabula-tabula besar, sering juga lupa pandangan polos seperti anak-anak itu.

Mengenang Gus Dur pada bulan yang mendung ini, tak ubahnya menghadirkan imajinasi anak-anak itu ke dalam kehidupan nyata. Di tengah lalu-lalangnya kebencian dan perpecahan yang menimbulkan fragmen-fragmen dengan identitasnya masing-masing, kita mulai merindukan sosok yang pada bulan lalu ini diperingati kepergiannya.

Apa yang dipertontonkan kepada publik hari adalah lapis demi lapis kebencian yang semakin rapat menutupi kedamaian dalam hati masyarakat. Damai ada didalam hati tapi mereka tak pernah berhasil merengkuhnya. Terlalu deras arus kebencian yang mengalir bebas di ruang publik ini.

Jadi, sangat relevan menghadirkan Gus Dur beserta bayangan kedamaian yang beliau sebarkan semasa hidupnya. Banyak tulisannya yang menggambarkan tentang kedamaian dengan berbagai gradasi warna.

Beberapa tahun sebelum menjabat sebagai presiden, Gus Dur merencanakan berkunjung ke Israel untuk menghadiri pertemuan para pendiri pusat perdamaian Shimon Peres di Tel Aviv.

Sebelum keberangkatan ke Tel Aviv Gus Dur menerima rancangan pernyataan bersama, yang disampaikan oleh Rabi Kepala Sevaflim Eli Baksiloron.

Dalam rancangan pernyataan itu, terdapat pernyataan Gus Dur dan Rabi yang bertuliskan “Berdasarkan keyakinan agama Islam dan Yahudi, menolak penggunaan kekerasan yang berakibat pada matinya orang-orang yang tidak bersalah.”

Sampai hari yang dinanti pun tiba, di Tel Aviv Gus Dur dan Rabi Eli langsung menandatangani pernyataan bersama itu di depan publik dan media massa.

Penolakan Gus Dur terhadap segala macam bentuk kekerasan bersumber pada pendapat agama yang tercantum dalam literature keagamaan (al-kutub al-mu’tabarah). Karena islam, menurut Gus Dur, adalah agama kedamaian bukannya agama kekerasan.

Menebar

Apakah anak-anak sekarang mengerti jika diminta untuk menebarkan kedamaian? Tentu saja mereka bisa mengetik kata “damai” di layar gawai mereka lalu mengirimkannya kepada teman-temannya sesuka hati.

Sungguh sederhana memaknai kedamaian sekarang. Begitulah kira-kira orang sekarang memproyeksikan kedamaian dengan aksi tebar kata (sharing word).

Kedamaian yang diditandatangani Gus Dur dan Rabi Eli diringkus kedalam sebuah kata “damai” di pesan Whatsapp, status Facebook sampai banner di pinggir-pinggir jalan yang tiap hari dihempas polusi.

Kata damai yang luhur sebagai sebuah cita-cita bersama seluruh bangsa saat ini hanyalah tinggal barisan kata. Adapun tafsiran yang panjang mengenai damai lebih sering dipolitisir dengan menyandingkannya bersama kata “meredam” kemarahan masa.

Damai tak lagi semewah impian, ia milik semua orang seperti semua orang memiliki gawai. Dengan demikian damai juga tertulis, tapi jarang terekspresikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia hanya disebar dari sana-kesini bercampur-baur dengan disebarkannya pula kebencian dan caci-maki. Tapi aneh, kenapa justru kebencian dan caci-mencaci yang terbawa perasaan sementara orang.

Coba kita tengok percakapan di media sosial kita. Kata “damai” dan kata “caci-maki” sama banyaknya tapi dalam kehidupan sehari-hari kata yang mengandung caci-maki lebih asyik untuk diekspresikan ketimbang perdamaian. Lebih berpolemik dan menimbulkan perhatian.

Akar dari kebencian adalah keakuan rasa benar sendiri, ingin menang sendiri, ingin dianggap, narsistik, dangkal dalam berfikir, intoleran, dan tidak menghormati yang liyan. Sederet sikap yang coba dihilangkan dari keidupan bermasyarakat kini subur kembali.

Rasa rindu akan kedamaian kian nampak di bulan yang mendung ini. Hujan turun membawa butir-butir kedamaian tapi media sosial justru menyiramnya dengan caci-maki. Kedamaian perlu dihadirkan secepatnya!

Gus Dur banyak memberikan banyak contoh tentang bagaimana hidup dalam keragaman tapi tetap damai. Begitu juga dalam beragama, demikian Gus Dur, beragama yang bisa menimbulkan rasa aman bagi orang-orang di sekitarnya. Beragama yang tidak menimbulkan rasa takut bahkan menjadi energi yang menerangi bukan memerangi orang lain… agar keberagamaan kita bisa menjadi energi perdamaian.

Salah satu cara yang baik untuk mengakhiri kebencian dengan menebar kedamaian agar kita senantiasa dapat menuai rahmat adalah dengan belajar dari Gus Dur dan mengaktualisasikannya ke dalam kehidupan. []

 

Tulisan ini dimuat di Majalah Pesantren Ciganjur edisi Desember 2016. Unduh file pdf-nya di sini.

Tags : , ,

Santri Pesantren Ciganjur. Mahasiswa pascasarjana STAINU Jakarta.

Leave a Reply