Posted On January 1, 2017 By In Budaya, Headline, Humaniora And 786 Views

Merayakan Isa

Sebagai manusia, Isa sang mesias dikaruniai Tuhan ‘modal’ berlimpah ruah buat jadi ‘seleb’ jagat raya sepanjang masa. Dan memang tidak bisa dipungkiri, sejak awal Isa adalah figur yang punya potensi besar untuk jadi populer sebab banyak hal, mulai dari kenyelenehan caranya lahir ke dunia, tanpa perantara bapak, hingga kontroversi kisah akhir hayatnya. Belum lagi setelah ia diangkat menjadi nabi dan kemudian dituhankan oleh kaum Kristen.

Isa ‘alaihi al-salām lahir dari seorang perawan yang belum pernah tersentuh lelaki sedikit pun sebelumnya. perempuan itu bernama Maryam. Saking ngetopnya Isa, al-Qur’an bahkan sampai menyebutnya sebagai “seorang terkemuka di dunia dan di akhirat” (Lihat QS. Āli ‘Īmrān (3): 45-47). Isa adalah sosok “seleb” yang terkemuka di dunia sepanjang masa hingga di akhirat sana. Segan saya padanya.

Tak hanya berhenti sampai di situ belaka, Isa kecil sudah pula dikaruniai Tuhan kemampuan untuk berbicara dengan orang dewasa; ia membela ibundanya, Maryam, dari tuduhan orang-orang bahwa Maryam telah berzina. Setelah tumbuh sebagai pemuda, ia mampu menyembuhkan penderita kusta, orang buta, dan dia dimampukan untuk membangkitkan orang koit dari kuburnya. Sebagai manusia biasa yang ditahbis menjadi nabi, luar biasa betul memang messiah satu ini.

Sebab keseleban dan sosoknya yang kontroversial itu, tidak heran jika Isa masih terus menjadi perbincangan hingga kini. Bahkan, dalam tiga agama, Yahudi, Kristen dan Islam, Isa dipandang sebagai sosok yang berbeda-beda. Kaum Yahudi tidak menganggap keabsahan status Isa sebagai utusan Tuhan, mereka mengingkarinya, bahkan kaum Yahudi saat itu beranggapan telah berhasil membunuh Isa, dan memang dari awal mereka jugalah yang berencana membunuhnya.

Beda Yahudi, beda Kristen. Alih-alih tidak mempercayai kenabiannya, kaum kristen malah menuhankan Isa, meski terbagi dalam beberapa sekte yang saling berbeda pendapat tentang sosok Isa atau Yesus Kristus. Ada perbedaan pendapat antara Kristen Unitarian dan Trinitarian mengenai ketuhanan Isa. Islam memuliakan Isa sebagai nabi, utusan Tuhan yang dikirim ke bumi untuk menebarkan kasih sayang, ia diutus sekitar 620 tahun sebelum pengutusan Muhammad—salawat serta salam tercurah padanya—di Makah, Arab Saudi, yang gersang. Ada kemiripan tipikal dan sifat antara Isa dan Muhammad: kelembutan dan kasih sayang yang melimpah ruah.

***

Pada tahun 336 M, suatu macam bidʽah ẖasanah dilakukan oleh umat Kristen. seperti yang tergambar dalam Injil Santo Lukas dan Santo Matius, saat itu mereka, untuk pertama kalinya, merayakan peringatan hari lahir sang juru selamat, Isa al-Masih alias Yesus Kristus. Natal adalah produk budaya, sebuah bidʽah yang sampai sekarang dirayakan tanggal 25 Desember setiap tahun, walaupun dalam perjalanannya mengalami pertentangan, bahkan sempat dilarang oleh gereja di Inggris. Salah satu tujuan perayaan natal adalah merayakan (ajaran kasih sayang) Isa.

Setiap menjelang tanggal 25 Desember, di Indonesia, tidak hanya umat kristen yang disibukkan dengan perayaan natal, tetapi juga umat Islam. Bukan, bukan untuk berbondong-bondong turut serta membantu saudara sebangsa merayakan hari besar mereka, akan tetapi untuk berdebat, eyel-eyelan, perihal hukum mengucap “selamat natal” kepada saudara sebangsa yang beragama Kristen. Perdebatan yang seringkali sampai otot-ototan itu makin semarak semenjak era internet menyalak.

Para begawan intelektual mulai dari Gus Dur, Cak Nur, Pak Quraish hingga Cak Nun sudah turun gunung mencoba melerai umat Nabi Muhammad yang hobi eyel-eyelan itu. Mereka menulis dalam prespektif masing-masing, mengapa di Indonesia, perlu digarisbawahi, di Indonesia yang berlatar belakang kemajemukan suku, ras dan agama yang tinggi, soal seperti mengucap selamat natal ini tidak usah diributkan.

Dari tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, semuanya bersepakat bahwa mengucap “selamat natal” kepada saudara sebangsa yang beragama Kristen itu sah-sah saja. Boleh. Itu semua tidak lebih sebagai usaha mempererat jalinan kebangsaan dan dalam rangka merayakan ajaran kasih sayang Isa. Rasanya tidaklah salah jika kita berbahagia dan turut menyongsong kegembiraan saudara kita dalam batas yang digariskan oleh Islam sehingga tidak ada salahnya mengucapkan “selamat natal” selagi akidah masih bisa dijaga dan selama ungkapan itu sejalan dengan apa yang dimaksud oleh al- Qur’an.

Dalam tulisan masing-masing tentang mengucap “selamat natal” bagi muslim, Pak Quraish dan Gus Dur memaparkan argumen yang cukup kuat: bahwa al-Qur’an mengakui natal (lihat QS. Maryam [19]: 30), bahkan al-Quran memberi contoh kepada kita untuk mengucap salam keselamatan kepada nabi-nabi lain mulai dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Harun. Maka tak ada salahnya juga jika umat Islam mengucap salam keselamatan untuk Isa pada hari natal.

Perihal perayaan hari kelahiran Isa bagi umat Islam, menurut Gus Dur, bisa jadi dirayakan dalam bentuk berbeda (dengan umat Kristen), atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud yang berbeda, semua itu tidak perlu dipersoalkan. Umat Islam merayakan natal sebagai penghormatan untuk Isa sebagaimana umat Islam yakini, yaitu sebagai Nabi Allah.

Sementara itu, untuk menunjukkan kebolehan mengucapkan “selamat natal”, Pak Quraish memaparkan argumen analogi (qiyās) atas suatu hadis: begitu tahu bahwa orang Yahudi berpuasa ‘Asyura demi merayakan hari keselamatan Musa dari kejaran Fir’aun, Nabi Muhammad bersabda kepada orang-orang Yahudi, “Saya lebih berhak (merayakan/mensyukuri keselamatan) Musa  daripada kalian (orang-orang Yahudi).” Maka Nabi pun berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud, melalui Ibnu Abbas. Lihat Majmaʽ al-Fawāid, hadits ke-2.981).

Salah satu hal yang harus dilakukan sekarang ini oleh umat Islam Indonesia adalah mengembalikan makna natal pada arti asalnya: hari ulang tahun, tanpa mengaitkannya dengan ritual agama apapun. Meski sulit, harus dicoba. Maka semakin kuat apa yang dipaparkan di atas bahwa kita sah-sah saja mengucap selamat natal kepada saudara sebangsa yang Kristen, tanpa mengurangi sedikit pun keimanan kita terhadap Isa sebagai nabi, dan sebaliknya, tidak serta merta mengucap “selamat natal” itu adalah tanda kita meyakini Isa sebagai Tuhan. Bahkan jika mengacu pada hadis di atas, kitalah semestinya yang lebih berhak merayakan (natal) Isa daripada kaum Kristen.

Saya sendiri hendak mengusulkan, bagaimana kalau di Indonesia antara umat Islam dan umat Kristiani mulai menggelar perayaan “natal bersama” dengan tujuan mempererat tali kebangsaan dan sebagai bentuk dialog kebudayaan antaragama sebagai wujud perayaan atas ajaran kasih sayang Isa; umat muslim merayakan Isa sebagai nabi Allah, dan umat Kristen merayakannya sebagaimana kebiasaan mereka.

Saya rasa gagasan ini bisa menjadi titik balik kemesraan dan kerukunan hidup beragama di Indonesia, yang akhir-akhir ini semakin menegang dan mudah tersulut api amarah. Tentu saja “natal bersama” ini tidak bertujuan untuk mencampur-adukkan akidah atau keimanan; di luar itu, “natal bersama” hanyalah dibatasi sebagai ritual yang merupakan bagian dari budaya yang tidak menyangkut hal paling prinsipil masing-masing agama.[]

Tulisan ini dimuat di Majalah Pesantren Ciganjur edisi Desember 2016. Unduh file pdf-nya di sini.

Mahasiswa Paramadina, aktif menulis di berbagai media.

Leave a Reply