Posted On November 22, 2015 By In Humaniora, Sastra And 1122 Views

Para Pencari Keadilan

Sebuah cerita pendek gubahan Taufīq al-Hakīm

Kalau di bumi ada keadilan, harus dibedakan antara profesi yang tanggungjawabnya dipikul dalam saat-saat tertentu dan profesi yang selalu dipikul tanpa batas waktu, yang dapat membuatmu bangun tersentak dari tidurmu karena kerjaan memanggil-manggil. Dia rampas waktu rehat agar kau tunaikan kewajibanmu. Mesti dibedakan profesi yang seperti baju, dipakai pagi hari dan dilepas siang hari, dari profesi yang ibarat stempel, lekat pada tubuh dan kepribadianmu, pada jiwa dan hatimu; tak sejenak pun ia lepas sifatmu, entah di rumah entah di kantor, entah siang entah malam.

Di antara profesi terakhir itu ialah polisi dan hakim. Pernah kurasakan sendiri tugas yang menguras tenaga mereka-mereka itu; aku pernah menjadi bagian dari mereka. Dan tak akan pernah kulupakan hari-hari ketika aku bertugas di kampung-kampung. Aku dengar kodok-kodok saling menyahut ketika aku bekerja di antara tumpukan berkas-berkas kriminal dan pelanggaran hukum, yang telah dikerumuni nyamuk-nyamuk dan rayap-rayap, di bawah temaram lampu. Bilamana telah usai kerja dan makan malamku, segera kurebahkan punggungku yang terasa perih seakan dicambuk. Hendak kureguk kenikmatan berihat agar dengan segar kuhadapi hari esokku. Tapi tiba-tiba aku bangkit lagi. Aku mendengar derap langkah-langkah kaki. Aku khawatir itu adalah orang berwenang yang datang karena ada kasus kriminal yang akan mencabut istirahat malamku; istirahat yang adalah bagian dari hak binatang ternak, binatang liar, dan burung-burung.

Aku sendiri kadang iri pada tersangka yang kuinterogasi dan kujebloskan ke terali besi. “Setidaknya dia nikmati malamnya,” gumamku, “sedangkan aku, malam saja tak dapat kunikmati!” Memang, polisi lebih sengsara lagi. Setiap masalah yang tebersit di benak pemerintah pasti dipikulkan pada polisi. Dialah yang bertanggungjawab dalam masalah keamanan, ketertiban, pajak, harta, penerapan hukum-hukum kriminal, sipil, dan syar’i, penerapan aturan-aturan khusus tentang perjudian, senjata, narkoba, dan seterusnya. Setiap kementerian negara menitipkan tugas di atas tanda kepangkatan atau ‘bintang-bintang’ yang disematkan di atas bahu polisi. Demi Tuhan, andai saja tanda kepangkatan itu bersayap, mereka pasti terbang karena beratnya beban yang mereka pikul. Andai saja bintang-bintang itu adalah bintang-bintang langit, pastilah mereka lebih memilih menawafi matahari ketimbang keliling bersama polisi seharian tanpa henti.

“Sabar! Ini kewajiban kita. Kita begadang demi keamanan,” kataku pada para polisi di malam ketika kami berjaga karena ada kasus

Tiba-tiba ada yang menyahut, “Andai saja kita diperlakukan setara dengan mereka yang begadang di kafe-kafe dan klub-klub!”

Kesetaraan! Inilah sesuatu yang kita tak berhak menuntut. Yang kita harap-harapkan hanyalah neraca keadilan yang menimbang kerja keras kita, menghormati haknya, dan melunasinya ketika tiba waktunya tanpa diundur-undur, tanpa keterlambatan.

Aku katakan itu sambil kurasakan pahit kezaliman yang kuhadapi. Tak ada orang peduli pada derajat yang semestinya aku duduki. Bukan karena tugasku yang melelahkan. Bukan berkat posisiku dalam hukum. Juga bukan karena aku senior. Sampai akhirnya aku dipindahkan dari posisi ini ke jabatan di salah satu kementerian. Kantornya dihiasi perabot-perabot mewah. Sekretaris khusus tersedia untukku. Tiap pekan ia mengetikkan satu surat. Seakan semua kemewahan ini tumpah begitu saja padaku: minum kopi, baca koran, mengobrol di telepon, makan siang, tidur, hiburan-hiburan, dan begadang.

Kezaliman segera aku lupakan. Hingga seorang kawan lama, pembantu kantor, mengunjungiku. Keadaannya tetap tak berubah meski tahun demi tahun telah berlalu. “Kau tahu apa itu pembantu kantor?” tanyanya padaku. “Ia ibarat keledai pembajak tanah di pusat atau di kantor!” lanjutnya, “aku keledai milik sang tuan. Setiap pekerjaan yang berat dan kotor dibebankan padaku! Toh walau begitu tak akan ada bintang berkilau di atas pundakku!”

“Kau mengharapkan bintang-bintang itu?”

“Angan-angan tinggi, lebih tinggi daripada bintang-bintang di langit! Keadilanlah yang aku harapkan. Keadilan yang hanya ada di atas!” katanya sambil menunjuk ke langit. Tanda kedalaman dan kekokohan iman.

“Selama kau percaya di langit ada keadilan, pasti suatu hari nanti ada keadilan yang jatuh ke bumi ini.”

Ketika lelaki itu telah pulang, masih saja aku berpikir. Pikiranku melayang-layang sampai akhirnya kubayangkan apa yang terjadi di langit. Dan keajaibanlah yang kutemukan! Di suatu ruangan luas, sejumlah malaikat duduk di belakang meja. Mereka seperti menguap habis beristirahat. Tiba-tiba satu malaikat datang sebagaimana kawan lamaku itu: kepenatan tercetak di wajahnya.

“Kalian tahu siapa itu Izrail?” ia berteriak kepada mereka, “ia jurang yang ke dalamnya segala sampah laknat manusia dibuang! Ia bekerja sambung menyambung tanpa kenal istirahat, tak kenal jeda. Berjaga siang hari, begadang malam hari. Sejak awal penciptaan, dia selalu bekerja sendirian! Dia cabuti nyawa yang makin lama makin bertambah jumlahnya. Setiap hari mesti ada cara kematian baru yang menambah berat tugasku! Angin topan saja tak cukup. Perang juga tidak. Pun penyakit lepra. Agar ratusan ribu nyawa bisa dipanen dalam sekedip mata, manusia ciptakan bom atom. Jadinya, akulah yang makin kesulitan sendirian di medan perang: ribuan nyawa itu harus aku kumpulkan dengan cepat dan, tentu, sambil gemetar khawatir ada yang kabur atau kembali sebelum sempat kugenggam. Maka akulah akhirnya yang harus bertanggungjawab. Aku lakukan itu semua di samping tugas pokokku. Sedangkan kalian enak-enakan duduk di atas sofa-sofa ini tanpa kerja apa-apa! Kalian kira kalian sederajat denganku, atau malah lebih mulia dan layak dihormati ketimbang aku!”

“Kami tak bekerja?” satu malaikat berusaha membela diri.

“Tentu! Apa yang kau kerjakan, Jibril? Dahulu kau memang turun untuk menyampaikan nubuat. Tapi masa kenabian telah usai. Lalu apa kerjamu sekarang? Ayo, katakan padaku! Kau juga, Israfil! Kerjamu nanti hanya meniup terompet di hari kiamat. Lalu dari sekarang sampai kiamat, apa kerjamu? Ayo, beritahu aku! Aku ini terzalimi, saudara-saudara! Tugasku amat melelahkan. Bebanku tiap hari makin susah. Di antara kalian semua, hanya tugasku yang sedemikian besar. Kemarin orang membunuh dengan pisau atau peluru. Tapi hari ini, orang gunakan bom yang bisa membunuh puluhan nyawa. Bukankah semua itu tanggungjawab yang harus kupikul! Walau begitu, tak ada yang berpikir untuk mengajukan malaikat baru guna membantuku. Malah tak ada pula yang berpikir untuk menghargaiku dan mengangkat derajatku di antara kawan-kawanku, atau derajatku diangkat seiring pertambahan berat tugasku!”

Sampai di situ tak kupacu lagi kuda khayalku. Derit pintu kamarku yang terbuka menjatuhkanku kembali ke pangkuan bumi. Si pembantu kantor telah kembali, “Maaf. Ada pikiran terlintas di benakku ketika aku pergi. Aku pikir lebih baik memberitahumu: kalau tak ada harapan akan ‘bintang-bintang langit’, setidaknya ada yang berpikir untuk menghargaiku dan mengangkat derajatku sesuai dengan tugas-tugasku.”

“Kau juga?” tiba-tiba saja aku memotong tanpa sadar.

“Aku juga? Maksudmu?” tanyanya sambil membelalakkan mata padaku di balik penampilannya yang putih keperakan.

“Dengar, kawan!” kataku sambil berpikir keras, “ketika Tuhan ciptakan perbedaan, Dia ciptakan perbedaan di segala tempat dan segala sesuatu. Perbedaan dalam nasib dan kesuksesan seperti perbedaan antara baik dan buruk, sakit dan sehat, siang dan malam. Tiap orang silih berganti mengalami kondisi berbeda-beda, entah senang, susah, sehat, sakit, malam, dan siang. Kalau memang sudah nasibmu hari ini tak ada bintang di atas bahumu, jangan putus asa. Kau punya anak?”

“Satu.”

“Mungkin di bahunya kelak bintang-bintang akan bersinar. Keadilan memang sungguh ada. Dan ia dapat saja mengenai keturunanmu. Perhitungan yang berjalan di muka bumi tidak hanya berlaku pada hidup satu generasi saja. Dan tidak berhenti hanya pada satu generasi itu. Bahkan Izrail yang mengeluh karena kebanyakan tugas pasti akan beristirahat selamanya ketika kiamat terjadi dan kematian terhapuskan. Kelak di hadapannya akan hanya ada sofa-sofa yang bisa ia duduki sambil menguap. Malaikat-malaikat yang lain akan iri padanya sebagaimana ia dahulu.”

“Izrail? Apa hubungannya dengan Izrail?” katanya sambil keheranan. Dengan kedua matanya yang lemah ia memandangiku penuh selidik.

Aku segera sadar, “Maaf, ini tema lain. Hanya antara aku dan dia. Intinya, manusia dan ‘non-manusia’ tidak boleh putus asa akan keadilan. Dengan sabar dan kokoh ia harus berusaha mewujudkannya, dan menunggu dengan teguh perputaran roda agung takdir. Roda yang tak pernah berhenti berputar. Yang pada mulanya rendah ditaruhnya di atas, yang tinggi ia taruh di bawah. Demikianlah seterusnya. Aku punya seorang kawan lain, kawanku. Setiap kali dia terkena musibah dan kami hendak menghiburnya, selalu ia berkata, “Maaf, planet terus berputar!”

Sang pembantu mengangguk. Kata-kata kawanku itu ia gumamkan berulang-ulang tanda puas dan percaya. Seakan harapan dan hiburan membanjiri hatinya. Tapi aku katakan lagi, “Inilah sikap kita, manusia, kepada Tuhan. Tapi itu tak menghalangi kita untuk punya sikap lain terhadap diri kita. Tuhan tak akan hilangkan keburukan, rasa sakit, kezaliman, dan malam dengan mukjizat dan keajaiban. Manusialah yang harus sekuat tenaga menghilangkan bencana, berusaha mewujudkan kesehatan dan keindahan, dan berjuang demi keadilan dan cahaya.”

“Bagaimana caranya berjuang melawan ciptaan Tuhan?”

“Tuhan telah menaruh dalam segala sesuatu benih-benih yang berlawanan. Kalau pintu sakit Dia buka, di situ pula ada benih sehat. Dalam keburukan ada benih keindahan. Dalam kezaliman ada benih keadilan. Dan dalam malam ada benih fajar. Alam semesta sebagai ciptaan lebih rumit daripada yang kita bayangkan. Dan Tuhan sebagai pencipta lebih canggih daripada yang kita khayalkan. Tak ada kekacauan dan kemacetan yang Ia ciptakan.”

“Lalu apa peran kita, manusia?”

“Menanami bumi, menemukan benih-benih yang baik dan menumbuh-kembangkannya menjadi tanaman yang indah dan berbuah lezat.”[]

 

 

Diterjemahkan oleh Wawan Kurniawan dari kumpulan cerpen Taufīq al-Hakīm, ‘adālah wa fann (Keadilan dan Kesenian).

Tags :

About

Pengelola website pesantrenciganjur.org

Leave a Reply