Posted On May 24, 2015 By In Al-Qur'an, Keislaman And 1280 Views

Penafsiran Ayat-ayat Tidur

Setelah mengumpulkan dan mengelompokkan ayat-ayat yang kemungkinan terkait dengan masalah tidur, penulis melanjutkan penelitiannya dengan mulai menampilkan penafsiran para ulama terkait ayat-ayat tersebut. Para penafsir yang dirujuk adalah Ibn Jarir al-Thabari dan Ibn Katsir sebagai representasi dari madzhab tafsir bil ma’tsur (riwayat), al-Razi dan Ibn al-‘Asyur yang mewakili madzhab tafsir bercorak bil ra’yu (rasional). Agar lebih tersusun rapi, penulis membahas ayat-ayat yang menggunakan kata nāma-yanāmu berikut derivasinya terlebih dahulu sesuai dengan urutan surat dalam mushaf.

  1. Al-Baqarah: 255

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.”

Ketika menjelaskan persoalan bahasa, al-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan beberapa arti kata sinah, di antaranya adalah endapan tidur yang masih mengganjal pada mata, rasa kantuk, dan kondisi antara tidur dan terjaga. Pemaknaan ini tentunya berdasarkan pada periwayatan yang ia terima dari para ulama sebelumnya.

Selain memberi penjelasan kebahasaan, ia juga memaparkan bahwa  rasa kantuk (sinah) dan tidur (naum) akan menguasai dan mengalahkan pelakunya yang berakibat kehilangan kontrol diri dan berpikir normal. Oleh karenanya, Allah, Pemilik sekaligus Penguasa dan Pengatur langit, bumi beserta segala isinya, tidak mungkin dihinggapi kedua hal ini. Lebih lanjut, al-Thabari juga menjelaskan periwayatan hadis yang terkait dengan ayat ini, yakni cerita seputar persoalan atau pertanyaan  yang dilontarkan oleh Musa AS mengenai Allah.

Hal senada juga dijelaskan oleh Ibn Katsir, namun ia lebih cenderung pada pendapat bahwa yang mempersoalkan tidur Allah bukanlah Musa AS, namun umatnya. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan kesempurnaan qayyūmiyyah Allah SWT. Tidak dihinggapi rasa kantuk dan tidur merupakan bukti bahwa tidak ada kekurangan, cacat, kealpaan maupun kelalaian sedikit pun pada Dzat Allah SWT.

Sementara itu, sebagai wakil dari madzhab tafsir rasional, al-Razi tidak membahas terlalu dalam ayat ini. Ia hanya membuat analogi bahwa apabila ada seorang yang mengurus anak kecil (‘momong,’ Jawa) lalai, maka akan berakibat fatal. Apalagi Allah yang mengatur semua mahluk lebih tidak mungkin lagi apabila tertimpa kelalaian. Sementara Ibn ‘Asyur lebih memperpanjang penafsirannya dibanding ar-Razi.

Dalam al-Tahrīr wa al-Tanwīr, Ibn ‘Asyur menjelaskan bahwa arti sinah adalah permulaan atau pemanasan menjelang tidur, sementara naum (tidur) adalah kondisi makin melemahnya syaraf-syaraf pada otak akibat lelah setalah anggota tubuh beraktivitas, dan naiknya suhu badan akibat terjadinya proses pencernaan. Tidur bisa terjadi lebih cepat bila matahari telah terbenam dan suasana gelap. Pada saat inilah otak dan susunan syaraf-syaraf yang lain  beristirahat. Hal ini tentunya tidak menimpa pada Allah.

  1. Al-A’rāf: 97

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ
Tidak ada penjelasan mendalam mengenai ayat ini dalam tafsir al-Thabari. Demikian halnya Ibn Katsir, al-Razi dan Ibn ‘Asyur.

3. Al-Anfāl: 43

إِذْ يُرِيكَهُمُ اللَّهُ فِي مَنَامِكَ قَلِيلًا وَلَوْ أَرَاكَهُمْ كَثِيرًا لَفَشِلْتُمْ وَلَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَلَكِنَّ اللَّهَ سَلَّمَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

 

“Ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”

Menurut al-Thabari, ayat ini merupakan sumber motivasi bagi kaum muslimin yang akan menghadapi perang Badar. Hati mereka yang masih minder menghadapi jumlah musuh yang begitu besar akhirnya tergerak dan bersemangat dalam menghadapi perang ini. Hal yang dalam alam nyata begitu besar dan tidak mampu dijangkau oleh pancaindera kadang diperlihatkan ketika tidur.  Hal senada juga disampaikan oleh Ibn Katsir. Menurutnya, untuk meneguhkan kesiapan tentara Muslimin, Allah memberitahukan melalui mimpi Rasulullah bahwa tentara kafir Quraisy yang akan dihadapi tidaklah banyak jumlahnya.

Al-Razi lebih mengamati fenomena yang tidak sejujurnya ini. Jumlah yang banyak dikatakan oleh Rasulullah dengan sedikit, berarti dalam hal ini Rasulullah melakukan kebohongan dan itu mustahil bagi utusan Allah. Untuk hal ini al-Razi memberi penjelasan bahwa yang diperlihatkan oleh Allah kepada Nabi bukan jumlah keseluruhan tentara kafir Quraisy, namun hanya sebagian saja. Dengan demikian, Rasulullah tidak membuat kebohongan dan berbicara sesuai dengan fakta yang dilihatnya.

Penafsiran al-Razi ini diperkuat oleh Ibn ‘Ashur. Ia menuturkan bahwa dengan memperlihatkan tentara kafir dalam jumlah yang sedikit pada mimpi Rasulullah, pada hakikatnya justru Allah memberi pertolongan kepada kaum Muslimin agar hati mereka tidak goyah dalam menghadapi peperangan. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa jumlah yang sedikit dalam mimpi tersebut merupakan simbol lemahnya tentara Quraisy, bukan jumlah mereka yang sedikit.

  1. Al-Furqān: 47

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا

 

“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.”
Ketika menafsir ayat ini, semua ahli tafsir di atas menjelaskan fungsi tidur  yang sama, yakni sebagai istirahat tubuh manusia.

5. Al-Rūm: 23

وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.”

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Thabari menjelaskan bahwa termasuk bukti-bukti kebesaran Allah adalah menjadikan malam sebagai waktu untuk beristirahat (tidur), bukan untuk berkativitas.  Sementara Ibn katsir memberi penjelasan bahwa fungsi tidur sebagai istirahat dan penghentian sementara dari aktivitas bisa terjadi pada waktu malam dan siang hari. Sementara untuk mencari penghidupan dan melanjutkan perjalanan, waktunya adalah siang hari.

Dari Madzhab rasional, al-Razi menjelaskan bahwa arti manāmukum bi al-lail wa al-nahār   dalam ayat ini bisa berarti tidur pada waktu malam dan siang. Dengan demikian ayat ini juga mengakomodir tidur qailūlah, yakni tidur singkat yang biasa dilakukan pada waktu siang. Hal senada juga dilontarkan oleh Ibn ‘Asyur. Ia mengatakan, di negara-negara yang suhunya panas, aktivitas banyak yang dilakukan pada waktu malam, dan pada pertengahan siang, penduduknya tidur beristirahat. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa fenomena tidur merupakan hal yang menakjubkan karena dengan pola seperti mati ini justru kekuatan tubuh akan terasa segar kembali.[]

Tags : ,

About

Alumni Pesantren Ciganjur, tinggal di Jawa Tengah.

Leave a Reply