Posted On March 2, 2017 By In Budaya, Headline And 752 Views

Pribumisasi Islam

Islam, Budaya dan Pribumisasi

Agama (Islam) dan budaya, dua-duanya tidak terlepas dari kehidupan umat Islam. Agama bersumber dari wahyu Tuhan, sedangkan budaya berkembang sebagai hasil cipta, karsa (kehendak), dan rasa manusia sejak manusia ada. Keduanya mempunyai titik persinggungan dan wilayah independensinya masing-masing.

Persinggungan antara budaya dan agama akan selalu terjadi terus-menerus dan hal tersebut adalah suatu keniscayaan. Akomodasi dan upaya mendamaikan (rekonsiliasi) antara agama dan budaya akan menghasilkan persambungan antar keduanya. Upaya tersebut dilakukan bukan karena khawatir terjadi ketegangan, sebab ketegangan akan reda dengan sendirinya. Bentuk atap masjid Demak merupakan bentuk upaya rekonsiliasi dan akomodasi yang dicontohkan oleh Gus Dur. Bentuk atap masjid demak diambil dari konsep “Meru” dari kebudayaan pra-islam. Baru pada masa kemudian bentuk kubah masjid ala Timur Tengah menjadi populer di Nusantara. Titik tolak rekonsiliasi agama dan budaya adalah agar wahyu dipahami dengan mempertimbangkan faktor-faktor kontekstual dan kesadaran akan perubahan zaman, termasuk kesadaran hukum serta rasa keadilan. Namun, pembauaran Islam dengan budaya tidak boleh terjadi, sebab berbaur artinya hilang sifat-sifat aslinya.

Gagasan Pribumisasi Islam berangkat dari kegelisan Gus Dur terhadap proses Arabisasi atau proses mengidentifikasi diri dengan budaya Timur Tengah, yang belum tentu cocok dengan Islam lokal yang telah berkembang di Indonesia. Terkait proses Arabisasi yang dikritik oleh Gus Dur adalah jika kita tercerabut dari akar budaya kita dengan kecenderungan mengidentifikasikan diri dengan budaya Timur Tengah. Apalagi jika hal itu tidak sesuai dengan kebutuhan. Bukan budaya  Timur Tengah-nya yang dikritik melainkan upaya menggantikan budaya setempat dengan budaya luar yang belum tentu cocok. Maka pribumisasi Islam yang ditekankan oleh Gus Dur adalah Islam yang mempertimbangkan keanekaragaman kultur setempat ketimbang ideologi kultural yang memusat dan bukan untuk menghindari polarisasi agama dan budaya.1 Justru pribumisasi bertujuan memperkuat atau mempertahankan budaya lokal.

Pribumisasi islam bukanlah ‘Jawanisasi’ atau sinkretisme agama dan budaya, sebab pribumisasi Islam bertujuan untuk menjembatani kebutuhan lokal di dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa mengubah hukum itu sendiri. Sebab, variasi pemahaman sumber hukum (nash) menyediakan peluang bagi norma-norma hukum Islam untuk menampung kebutuhan-kebutuhan dari budaya lokal msyarakat tanpa mengubah norma itu sendiri dengan berpegang pada Ushul Fiqh dan Qaidah Fiqh. Dari sini terlihat bahwa Gus Dur adalah seorang pakar Ilmu Fiqh sehingga dengan kepakarannya tersebut, beliau mampu menawarkan konsep yang bagi penulis sendiri belum sepenuhnya memahami. Bagi Gus Dur, pribumisasi Islam adalah bagian dari sejarah Islam, baik di negeri asalnya maupun di negara-negara luar Arab. Maka sebenarnya pribumisasi Islam merupakan proses yang telah berlangsung dan sedang berlangsung yang menjadikan Islam sebagai agama yang mampu bertahan dan berkembang selama 14 abad ini.

Nash, Aplikasi Nash, Pendekatan dalam Qaidah Fiqh, dan Weltanschauung Islam

Dalam Islam posisi nash sebagai sumber hukum sangat sentral dan mutlak sehingga tidak dapat diubah. Sementara itu, untuk menghadapi permasalahan kehidupan manusia kontemporer saat ini diperlukan suatu pendekatan atau formulasi hukum baru yang mengarah pada pendekatan multi-dimensional yang berwatak dinamis, sehingga ajaran Islam mampu mempertahankan relevansinya sebagai jalan hidup bagi manusia di era modern.

Menurut Gus Dur, untuk menjadikan ajaran Islam berwatak dinamis perlu dilakukan pengembangan aplikasi nash, salah satu jalannya melalui Ushul Fiqh dan Qaidah Fiqh seperti disinggung di awal. Gus Dur mencontohkan perkembangan hukum Islam dalam kasus permaduan dengan adanya intepretasi yang baru yang menempatkan perempuan sebagai subjek hukum yang setara dengan lai-laki, dan keadilan yang dimaksud di dalam nash diukur dari perspektif objek yang dimadu (perempuan), maka hak laki-laki untuk ‘bermadu’ tidaklah seperti sebelumnya yang memiliki posisi sebagai penentu. Sedangkan “PR” selanjutnya yang tidak kalah penting menurut Gus Dur adalah mengembangkan pemahaman aplikasi nash tersebut dengan sistematis, cakupan lebih luas, dan argumentasi yang lebih matang.

Hal inilah yang dimaksud Gus Dur sebagai konsep Pribumisasi islam, yakni pemahaman aplikasi nash untuk menjawab masalah-masalah umat Islam, khususnya muslim di Indonesia. lebih jauh perlu peranan yang besar dari para pemikir dan pakar hukum Islam. Kita tidak lagi hanya sekedar mengandalkan ketentuan normatif hasil pemikiran ulama terdahulu tanpa ada upaya mengembangkannya agar sesuai dengan kondisi saat ini.

Bagi Gus Dur, Islam bukanlah sesuatu yang lembam, bukan ajaran yang sekali jadi dan tidak memerlukan penyesuaian. Hanya prinsip dan nilai dasar Islam yang abadi, yaitu keadilan, persamaan, dan demokrasi (musyawarah). Sedangkan watak ajaran Islam memerlukan upaya reformulasi atau reaplikasi sehingga akan selalu relevan dan kontekstual.

Gagasan selanjutnya dari pengembangan aplikasi nash yang ditawarkan Gus Dur adalah sebuah pandangan dunia (Weltanschauung) Islam bersama, yaitu Islam yang mengakomodasi dan mendukung kemaslahatan rakyat. Sayangnya kesepakatan di antara umat Islam tentang gagasan weltanschauung Islam ini belum pernah terjadi. Beberapa Intelektual muslim yang berusaha menawarkan kesegaran ajaran Islam berdasarkan prioritas yang benar dan sejalan dengan weltanschauung Islam yang digagas Gus Dur, dalam kenyataanya di dunia Islam tidak disambut dengan baik. Membaca tulisan ini rasanya kita dapat merasakan kejengkelan Gus Dur dengan kegaduhan yang ditimbulkan, akibat umat Islam yang terpesona sebatas pada makna simbolik. Terlebih simbol tersebut didentikan dengan budaya Arab. Alih-alih fokus pada Islam yang memikirkan kemaslahatan umat di atas segalanya, di atas kepentingan kelompok, identitas, madzhab, sekte, faham, sistem negara dan sebagainya, malah disibukkan dengan masalah-masalah semu atau hanya bersifat pinggiran atau cabang.

Dengan demikian pandangan jangka panjang Gus Dur di atas, akan mampu menghasilkan watak ajaran Islam yang dinamis menggunakan berbagai pendekatan sehingga relevan dengan kondisi zaman dan mampu memecahkan persoalan-persoalan hidup aktual yang dihadapi umat Islam di Indonesia saat ini.

 

Tulisan ini merupakan parafrase dari tulisan Gus Dur yang berjudul sama, dimuat di buku Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan halaman 117.

Leave a Reply