Posted On June 18, 2016 By In Fikih, Headline, Keislaman, Tasawuf And 799 Views

Puasa: Dari Seremonial Menuju Peningkatan Spiritual

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, serta pertemukan kami dengan bulan Ramadan”

Untaian doa di atas selalu menghiasi hari-hari manusia suci, baginda Rasulullah saw di kala beliau berjumpa kembali dengan bulan yang dimuliakan oleh Allah yakni bulan Rajab dan Sya’ban. Sabda yang berisi doa ini menyuratkan betapa mulianya kedua bulan tersebut sekaligus juga menyiratkan bahwa Rasulullah sangat merindukan dan mendambakan untuk berjumpa kembali dengan pimpinan bulan-bulan Islam (sayyid asy-syuhur) yaitu bulan Ramadan.

Kerinduan akan kehadiran Ramadan yang telah diuswahkan oleh Rasulullah kepada umatnya ini layak mendapatkan perhatian sekaligus pelaksanaan secara kongkrit dari umat Islam, mengingat momentum ini tidak datang setiap saat sepanjang tahun. Bagi mereka yang dapat memanfaatkan secara maksimal hadirnya bulan suci Ramadan tentu akan mendapat keuntungan dan kebahagiaan yang tak ternilai, sebaliknya sungguh rugi bagi umat Islam yang belum atau tidak menggunakan momen yang sangat berharga ini secara optimal mengingat berbagai keutamaan, “bonus-bonus spesial” serta pemberian-pemberian lainnya yang  tak terhitung dan  telah dijanjikan oleh Allah SWT.

Guna dapat meraih hasil  maksimal sesuai yang diharapkan, seorang muslim hendaknya melakukan partai-partai  pemanasan menjelang perhelatan “final akbar Ramadan” dimulai dengan kualifasi dan  penyisihan grup serta babak-babak berikutnya menjelang final mulai bulan Rajab sampai bulan Sya’ban. Saat Ramadan tiba, ia telah benar-benar siap secara fisik maupun mental dan pada akhirnya pada waktu lebaran, ia keluar sebagai pemenang mengalahkan hawa nafsunya sehingga benar-benar menjadi manusia  yang fitri dan layak mendapatkan gelar ā’idin al-fāizin (orang-orang yang kembali dengan penuh kesuksesan).

Dalam banyak hadis shahih disebutkan bahwa intensitas puasa sunat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW lebih banyak dilakukan pada bulan Sya’ban ketimbang bulan-bulan yang lain. Hal ini menandakan bahwa sebelum menjalankan ibadah yang bersifat ritual dan diharapkan berdampak meningkatnya kualitas spiritual pada diri seseorang  dalam hal ini adalah menjalankan puasa Ramadan, ternyata memerlukan latihan  terlebih dahulu. Ada beberapa latihan maupun pemanasan  yang dapat dilakukan oleh seorang muslim dalam mempersiapkan diri menghadapi bulan Ramadan:

  1. Mu’ahadah, secara harfiah ungkapan ini berarti saling berjanji atau dua belah pihak yang mengadakan perjanjian. Sementara untuk konteks persiapan puasa dapat diartikan bahwa seseorang hendaknya  berusaha membuat komitmen baik terhadap diri sendiri maupun Sang Pencipta. Melalui proses mu’ahadah ini diharapkan agar kualitas ibadah puasa yang dilakukan lebih baik dibanding ibadah puasa  bulan Ramadan pada tahun sebelumnya.
  1. Mu’āqabah, arti dari ungkapan ini memberi sangsi, hukuman (terhadap diri sendiri) apabila ia terbukti tidak berhasil atau gagal menjalankan komitmen yang telah ia Seseorang yang telah berkomitmen akan membaca satu juz Al-Qur’an dalam setiap hari selama bulan Ramadan, misalnya, akan tetapi dalam kenyataannya pada suatu hari ia tidak memabacanya sebab apapun, maka ia hendaknya menghukum dirinya sendiri.
  1. Muḫāsabah, selalu instropeksi diri. Seorang muslim yang ideal tentunya seringkali melakukan proses muhasabah ini sebagai bahan evaluasi diri atas berbagai aktifitas yang ia lakukan demi perbaikan di masa-masa mendatang. Melalui proses muhasabah ini, ia akan mengetahui titik lemah, kekurangan serta keburukan yang seharusnya tidak layak dilakukan dalam bulan Ramadan kali ini.
  1. Murāqabah, selalu merasa diawasi oleh Sang Khalik. Dengan proses murāqabah ini diharapkan seorang muslim tidak berbuat semaunya sendiri dan tanpa rasa tanggung jawab mengingat dalam tiap langkahnya, ia selalu merasa diawasi oleh zat yang maha melihat. Apabila hal ini sudah menjadi bagian dari pola hidupnya, maka pelanggaran-pelanggaran akan dapat diminimalisir sedemikian rupa baik yang sifatnya vertikal kepada Allah swt maupun horizontal terhdap sesama manusia.
  1. Mujāhadah, memerangi hawa nafsu. Hal ini sangat penting dilakukan agar dalam tiap sikap serta perbuatan yang dilakukan oleh seorang muslim tidak hanya berdasar pada nafsu sesaat. Melalui proses mujahadah ini pula seorang muslim akan mampu mengikis sedikit demi sedikit sifat maupun sikap egois yang selama ini melekat pada pada dirinya.

Menuju Peningkatan Spiritual

Sebagaimana telah  kita ketahui  bahwa dalam bulan Ramadan terdapat salah satu rukun Islam yang harus dilaksanakan, yakni ibadah puasa. Jika ditilik dalam al-Qur’an, Sebenarnya puasa tidak hanya  diinstruksikan oleh Allah yang maha Esa kepada umat Islam saja, namun juga diwajibkan kepada umat-umat beragama sebelumnya seperti Yahudi, Nasrani dan agama-agama yang lain (Al-Baqarah: 183).

Perintah berpuasa kepada orang-orang  yang  beriman sebagaiman terdapat dalam ayat tersebut diredaksikan dengan kata shiyām dan bukan shaum. Di dalam al-Qur’an ungkapan shiyām disebutkan lebih banyak ketimbang kata shaum.  Menurut sebagian ulama, ungkapan pertama lebih mudah untuk dijalankan dibanding mengimplementasikan ungkapan kedua.

Kata shiyam lebih mengacu pada pelaksanaan “puasa syar’i” yakni menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari sisi lahiriah semata, sementara kata shaum dimaknai bukan hanya melaksanakan puasa lahiriyah saja, akan tetapi lebih dari itu, sisi batiniyah juga harus berpuasa. Dari sini dapat dibayangkan jika perintah puasa Ramadan menggunakan kata shaum, bukan kata shiyām, betapa sulit dan susahnya menjalankan salah satu sendi dalam rukun Islam ini.

Meskipun demikian, bagi mereka yang menginginkan adanya peningkatan spiritual dengan berpuasa Ramadan, perintah ber-shiyām yang lebih menitikberatkan  kepada aspek  lahiriyah serta telah menggugurkan  kewajiban  bagi yang menjalankannya dalam pandangan syariat ini, sebaiknya sudah mulai beranjak ke fase shaum sehingga tujuan disyariatkannya perintah puasa benar-benar tepat sasaran. Adapun tujuan berpuasa tidak akan lepas dari dua hal mendasar yakni  sebagai  sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta serta memenuhi kebutuhan spiritual manusia.

Dalam bahasa, agama  kedua tujuan mendasar dari disyariatkannya puasa dapat disederhanakan dalam sebuah ungkapan yang cukup berat merealisasikannya dalam kehidupan sehari-sehari. Ungkapan yang dimaksud tersebut tidak lain adalah taqwa. Akan tetapi dengan melalui proses pelatihan penempaan diri (riyādlah al-nafs) sebagaimana telah dijelaskan di atas, seorang muslim akan menatap dan menjalankan puasa Ramadan yang tadinya bersifat shiyām seremonial meningkat menjadi shaum spiritiual.

Jika ini yang terjadi, kesuksesan  sebagai hamba Allah baik  secara individu maupun  sosial bukan hanya isapan jempol semata. Selama kepentingan Allah didahulukan daripada kepentingan nafsu atau diri sendiri, peningkatan spiritual melalui puasa akan segera terealisasi, meski tidak mudah.

Wallahu a’lam.

Tags : , ,

About

Alumni Pesantren Ciganjur, tinggal di Jawa Tengah.

Leave a Reply