Posted On March 31, 2017 By In Budaya And 919 Views

Selamat Nyepi, Selamat Bertakhali

Nyepi tanda tahun berganti,” senandung Ocha dengan merdu, “buka lembar kitab yang baru/tinggalkan kisah yang telah lalu.” Ya, Nyepi memang merupakan hari raya pertanda tahun baru Saka, nama penanggalan yang dipakai umat Hindu. Hari raya ini jatuh pada tanggal pertama bulan kesepuluh dalam kalender Saka.

Lalu, kenapa perayaan ini dinamai “Nyepi”? Apa yang dihindari dan apa yang dilakukan umat Hindu dalam merayakan tahun baru tersebut? “Dalam hening temukan Diri,” lantun Ocha lagi, “Tapa brata yoga semadi/Amati geni sepanjang hari/Jauhkan segala yang duniawi.” Jadi, secara negatif, apa yang dilakukan umat Hindu selama hari raya Nyepi adalah, dalam ungkapan lirik di atas, “[men]jauhkan segala yang duniawi.” Dalam praktik, hal ini dilaksanakan dengan menjauhi atau tidak melakukan empat hal yang lumrah disebut catur brata: tidak menyalakan/menggunakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan).[1]

Praktik “menjauhkan segala yang duniawi” ini jelas berbeda sepenuhnya dari perayaan umum tahun baru Masehi yang gegap gempita, boros, dan tidak menyasar tujuan lain selain perayaan itu sendiri. Keempat praktik amati merupakan praktik, meminjam bahasa Cak Nun, ngerem, menahan, atau malah menghentikan sejenak pemenuhan hasrat-hasrat lahiriah. Ini tentu tidak boleh dipahami terlalu jauh bahwa Hindu mencemooh apapun yang duniawi; Hindu membebaskan pemeluknya untuk terlibat sepenuhnya sepanjang tahun dalam kegiatan duniawi, atau lahiriah, tapi ia meminta setidaknya sehari saja, yaitu pada awal tahun, agar mereka menjauhi semua itu, agar mereka “me-Nyepi”. Praktik semacam inilah yang sebenarnya juga dirujuk dengan istilah “tapa,” dan karena ia, sampai pada tahap tertentu,  terasa berat dan umat Hindu dituntut, sesuai kemampuan mereka, tentunya, untuk berlatih merasakan derita tapa itu, maka praktik yang sama ini juga disebut “brata”. Ini baru apa yang tidak dilakukan, baru separuh—separuh yang lain adalah apa yang dilakukan umat Hindu selama Nyepi; tapi sebelum memahami apa separuh yang kedua itu, kita sebaiknya memahami terlebih dahulu tujuan Hindu mengajarkan keseluruhan praktik semacam ini.

Secara ringkas, tujuannya adalah “menemukan Diri”. Selintas, tujuan ini terdengar aneh; secara dangkal kita mungkin akan bertanya apakah umat Hindu kehilangan diri mereka sehingga mereka perlu menemukannya—pertanyaan yang jelas mesti dijawab secara negatif. Tapi, kalau begitu, lalu apa yang sesungguhnya hendak ditemukan? Lebih persis lagi, apa yang dimaksud dengan kata “Diri” di sini? Untuk mengerti hal ini, kita perlu, walau singkat saja, menelisik konsep Diri dalam Hindu.

Kita, baik penganut Hindu maupun bukan, telah terbiasa mengidentifikasi diri atau ke-aku-an kita dengan tubuh fisik, emosi, dan pikiran kita; “aku” adalah tubuhku, emosiku, dan pikiranku. Konsekuensinya, kita menganggap “aku” secara eksistensial berbeda dan terpisah sepenuhnya dari manusia yang lain, dari alam semesta, bahkan dari Tuhan; dan sekali kita melihat semua itu secara eksistensial berbeda, maka kita melihat kejamakan yang tak tereduksikan, kejamakan di mana harmoni antar yang satu dengan yang lain adalah sebuah kebetulan. Konsekuensi lanjutannya, kita melihat dunia sebagai, dalam titik ekstrimnya, suatu medan pertarungan, suatu medan kompetisi, dan kedamaian baru akan kita raih bila kita memenangkan pertarungan, bila segala yang lain itu telah ditaklukkan. Tapi, kita sesungguhnya sadar, kehidupan atau dunia terlalu besar, kompleks, dan lihai untuk ditaklukkan sepenuhnya, dan kita mungkin dapat berpuas diri memenangkan suatu pertempuran tertentu dalam kehidupan, suatu kemenangan yang, sampai tingkat tertentu, memberikan rasa nyaman dan betah dalam hidup, walau tetap ada rasa tak puas dalam diri, seakan masih terlalu banyak ruang dalam diri yang perlu diisi, rasa kehampaan. Naasnya lagi, masih ada suatu peristiwa yang, dalam batas pandangan kita terhadap diri di atas, membuat kita merasa tak sepenuhnya tenang, peristiwa yang tak terelakkan dan yang akan sepenuhnya merebut dan menumpas—sekali lagi, dalam batas pandangan akan diri di atas—keseluruhan diri kita: kematian. Singkatnya, tepat pada poin ini, Hindu menegaskan bahwa avidya (ketak-tahuan, ignorance)—yakni, kebodohan berupa tindak mengidentifikasi diri dengan tubuh, emosi, dan pikiran—menyebabkan orang hidup dalam penderitaan yang tiada akhir, samsara.

Berkebalikan dengan avidya itu, Hindu mengajarkan bahwa diri sejati manusia adalah Atma, atau jiva (jiwa)—sesuatu yang juga ada dalam setiap makhluk dan yang, dalam hakikat terdalamnya, tiada lain adalah pancaran Brahma, Tuhan, Sang Hyang Widhi, sebagaimana sinar yang membuat siang terang adalah pancaran sang surya. “Ketika Dia bersinar,” kata Upanishad, salah satu kitab suci Hindu, “segalanya mulai bercahaya. Apapun di dunia merefleksikan cahayaNya.”[2] Kesadaran eksistensial akan Hakikat diri, dan bahkan segala kenyataan, inilah yang disebut “Kesadaran Atma” (Atma Jnana). Dalam ajaran Hindu, hanya bila orang telah “sampai” pada tahap kesadaran ini, ia sepenuhnya bebas dari kebodohan, kekangan, dan ketak-bahagiaan.

Lalu bagaimana cara agar seseorang “sampai” pada Diri Sejati itu? Dalam tradisi Hindu, cara itu adalah yoga. Secara literal, yoga berarti “penyatuan,” juga “melakukan disiplin” atau “berlatih”; digabungkan bersama, dua arti ini memberi kita gagasan tentang yoga sebagai disiplin terencana untuk mencapai penyatuan.[3] Dipahami dalam konteks Hindu, yoga berarti disiplin atau latihan terencana untuk mencapai penyatuan jiwa manusia dengan Tuhan.[4] Tapi perlu ditegaskan bahwa penyatuan di sini sebenarnya bukanlah hasil dari yoga; lebih tepat lagi, ia bukanlah sesuatu yang, sebelum yoga dilakukan, tiada dan baru ada ketika seseorang berhasil melakukan yoga.[5] Jiwa manusia adalah pancaran Tuhan, selalu demikian selamanya, dan sebagaimana matahari dan sinarnya tidak pernah terpisah, demikian pula Tuhan dan jiwa manusia. Masalah yang coba diatasi melalui yoga, sekali lagi, adalah avidya, ketaksadaran akan fakta metafisik tersebut. Dan karena yoga terutama berkaitan dengan kesadaran, maka apapun yang terlibat dalam praktik yoga, tapi tidak secara langsung berkaitan dengan kesadaran “hanya” berfungsi sebagai pendukung.[6]

Dalam tataran praktik, Hindu tidak hanya mengajarkan satu macam yoga; “logika” Hindu yang realistis, dalam arti kata ini yang sebenarnya, tidak mengijinkan hanya ada satu macam yoga: karena manusialah pelaku yoga, dan kepribadian manusia berbeda-beda, maka yoga juga mesti bermacam-macam seturut kepribadian manusia. Untuk mereka yang kepribadiannya didominasi watak kontemplatif, Hindu menyediakan jalan pengetahuan (jnana yoga); untuk mereka yang didominasi perasaan, jalan cinta (bhakti yoga); untuk mereka yang didominasi watak aktif bekerja, jalan pengorbanan (karma yoga); dan untuk mereka yang gemar bereksperimen, jalan latihan psikologis (raja yoga).[7]

Akhirnya, meski jalan yang dilalui berbeda, namun tujuan tetap sama: samadhi, “bersama dengan Tuhan”; yakni, keadaan di mana kesadaran manusia terserap dalam Tuhan.[8] Ada dua macam samadhi: savikalpa dan nirvikalpa;[9] dalam samadhi macam pertama, dualitas antara kesadaran seorang yogi (pelaku yoga) sebagai subjek dan Tuhan sebagai objek masih ada; ketika keadaan penyatuan terjadi dan sang yogi telah “beristirah” dalam Tuhan, sang yogi masih sadar akan dirinya dan sadar akan keadaan yanga sedang ia alami. Sementara itu, dalam samadhi macam kedua, yang lebih dalam daripada yang pertama, dualitas subjek-objek telah sirna, dan satu-satunya bahasa yang mungkin untuk mengutarakan pengalaman dan kebahagiaan dalam samadhi kedua ini adalah diam.[10]

***

Sampai di sini, kami mendiskusikan doktrin Hindu terkait aktivitas Nyepi hanya dari perspektif Hindu sendiri. Pertanyaan: mungkinkah kita mengapresiasi doktrin tersebut dari sudut pandang Islam? Menurut kami: amat mungkin, dengan catatan kita tetap sadar akan perbedaan dan persamaan antara dua sudut pandang tersebut. Perbedaan terutama kita dapat temukan dalam bentuk lahiriah, baik dalam bentuk ritual perayaan tahun baru, maupun bentuk atau cara praktik ruhani. Terkait perayaan tahun baru, misalnya, selain kenyataan bahwa umat Islam mempunyai kalender dan, konsekuensinya, tahun baru yang berbeda, mereka juga cenderung merayakannya dengan pengajian yang berisikan pembacaan salawat dan kisah hijrah Rasulullah SAW. Sementara itu, umat Hindu melakukan serangkaian upacara sebelum hari Nyepi, seperti upacara Melasti, upacara Buta Yadnya, serta kegiatan dharma shanti (“silaturahim”) setelah hari Nyepi.

Adapun persamaan antara dua perspektif tersebut dapat kita temukan terutama dalam prinsip doktrin metafisika dan prinsip metode ruhaninya, yang dalam konteks Islam dibahas secara khusus oleh tasawuf. Membaca beberapa doktrin Hindu di atas, ingatan akan beberapa konsep kunci tasawuf menjadi tak terelakkan: takhalli,  fanā’ (“lebur”), fanā’ al- fanā’ (“lebur dari peleburan”). Konsep takhalli, dalam konteks ini, paling cepat tebersit karena secara harfiah berarti sama dengan nama hari raya umat Hindu: “menyepi,” “menyendiri”. Pun, dalam arti teknisnya, kemiripan antara keduanya tetap jelas: keduanya sama-sama menandai suatu kegiatan “undur diri” dari dunia, sikap dan sifat egois.

***

Bagi pikiran modern yang serba empiris, semua yang dikatakan di atas amat mungkin terasa aneh, bahkan berbau mitos, dan terlihat hampir sama sekali tidak berkaitan dengan pergantian tahun, yang dianggap sebagai semata peristiwa profan. Akan tetapi, bagi pikiran tradisional, yang tak dapat dipisahkan dari agama sebagai esensi atau “nyawanya”, segala peristiwa, termasuk pergantian waktu, hanyalah profan bila dilihat terpisah dari Tuhan dan selalu sakral bila dilihat terhubung—dan memang demikianlah setiap agama mengajarkan—denganNya. “Apapun di dunia merefleksikan cahayaNya,” kata Upanishad, dan “Allah adalah cahaya langit dan bumi,” kata Alquran.

Satu hal lagi: alasan kenapa kami coba, betapa singkat pun, mendiskusikan perspektif Islam dalam konteks ini adalah demi melihat kembali titik-titik kesamaan antaragama, dalam konteks ini Islam dan Hindu—suatu hal yang akhir-akhir ini jarang sekali diperhatikan dan di saat yang sama perbedaan lahiriah terlalu sering ditekankan, dan bahkan Islam sendiri terlalu sering dibatasi hanya pada aspek lahiriah tersebut. Dimensi batin atau spiritual agama pada dasarnya adalah semesta batin yang amat luas atau universal dan yang mengatasi kesempitan dan perbedaan formal agama-agama dan, lebih dari itu, mengatasi kesempitan dan kesumpekan modernitas.

Akhirulkalam, selamat Nyepi bagi umat Hindu, dan selamat bertakhali untuk umat Islam![]

 

____________

[1] Kecuali beberapa rujukan yang kami sebut secara eksplisit nanti, informasi terkait Nyepi dalam tulisan ini kami peroleh dari beberapa website yang mengulas tentang Nyepi.

[2] Upanishads, dalam F.C. Happold, Mysticism: a Study and an Anthology, (Penguin: London, 1990), h. 146.

[3] Huston Smith, Agama-agama Manusia, (Obor: Jakarta, 2008), h. 39. René Guénon, The Essential René Guénon: Metaphysics, Tradition, and the Crisis of Modernity, ed. John Herlihy, (World Wisdom: Bloomington, 2009), h. 154.

[4] Huston Smith, Agama-agama Manusia, h. 40.

[5] René Guénon, The Essential, h. 171.

[6] René Guénon, The Essential, h. 155.

[7] Untuk keterangan lebih lengkap, rujuk Huston Smith, Agama-agama Manusia, h. 37-71.

[8] Huston Smith, Agama-agama Manusia, h. 70.

[9] Heinrich Zimmer, Philosophies of India, ed. Joseph Campbell, (Routledge and Kegan Paul: London, 1953), h. 435-436.

[10] Heinrich Zimmer, Philosophies, h. 436-437.

Leave a Reply