Posted On April 8, 2017 By In Tasawuf And 631 Views

Takut dan Berharap kepada Allah

بسطك كي لا يبقيك مع القبض، وقبضك كي لا يتركك مع البسط وأخرجك عنهما كي لا تكون لشيء دونه

Allah “melepasmu” agar ia tidak membiarkanmu terus menerus bersama gengaman-Nya; dan Dia “menggenggammu” agar Dia tidak meninggalkanmu bersama keterlepasan; dan Dia keluarkan engkau dari genggaman dan keterlepasan agar kau ada hanya untuk-Nya.

“Allah menggenggammu” artinya Allah memberikan satu cobaan yang membuat kita menjadi sangat sempit. Nah, genggaman Allah itu adalah satu bentuk sifat yang membuat si hamba merasa tak berdaya apa-apa, penuh dengan rasa takut. Karena itu, maqam qabdh itu sebenarnya di atas maqam khauf (takut). Di Alquran Allah menyebut ada kata khauf dalam arti takut dari siksa, takut dari neraka, takut yang mengekspresikan satu penderitaan yang menyakitkan, baik secara fisik maupun secara mental. Pasangannya khauf itu adalah rajā’, “harapan”. Di maqam rajā’, seorang salik merasakan optimisme yang amat kuat, sedangkan dalam maqam khauf, seorang salik merasakan pesimisme yang amat kuat. Misalnya, tiba-tiba Allah membukakan pintu neraka pada kita, lalu kita merasa amat pesimis. Sebaliknya, ketika Allah bukakan pintu surga, kita optimis; segala penderitaan terlupakan. Nah, di Alquran disebutkan, “Ingatlah, para kekasih Allah itu tidak merasakan khauf sama sekali, tidak pula mereka bersedih” padahal di ayat lain ada perintah “takutlah pada-Ku kalau engkau benar-benar beriman”. Khauf dan rajā’ memang sebuah tahap spiritual terkait ketakutan dan harapan yang paling umum. Umumnya orang itu takut kalau di ancam oleh siksaan, penderitaan. Takut sebenarnya adalah kegelisahan terkait hal-hal yang ada di masa depan; misalnya, takut besok tidak makan. Sementara itu, kesedihan (huzn) adalah kegelisahan terkait masa lalu.

Para wali itu sudah melampaui khauf. Kenapa? Karena dia memasuki qabdh dan basth; harapannya bukan lagi berupa rajā’, tapi basth. Qabdh adalah semacam ketakutan, tapi bukan pada siksaan, krisis finansial, ancaman musuh, tapi takut bila tidak diridai atau tidak dicintai oleh Allah. Rasa takut semacam inilah yang dirasakan oleh orang-orang saleh dan para wali. Sementara itu, harapan para wali bukan lagi agar mereka masuk surga dan menikmati segala kenikmatan makanan, minuman, dan semacamnya di sana; harapan semacam ini baru rajā’. Harapan mereka sudah naik pada tingkat di atas rajā’, yaitu maqam basth, yaitu berharap menjumpai Allah. “Aku tidak ingin kehilangan Engkau sedetik pun,” kata mereka.

Sekarang, bila kita di satu sisi, masih ingin surga namun juga masih takut neraka, tapi di sisi lain ada maqam yang lebih tinggi, bolehkah kita memaksakan diri loncat ke maqam itu? Jangan. Biarlah Allah yang mentransformasikan suasana rohani kita dari suasana khauf menuju qabdh, dari suasana rajā’ menuju basth karena tidak ada “sekolah resmi” untuk transformasi semacam itu. Jangan pernah berangan-angan, “Ah besok malam saya mau naik kelas; sudah lama saya di maqam khauf, besok naik ke qabdh.” Biar Allah sendiri yang menaikkan, dan kita sendiri memang tidak akan mampu meraih sebuah maqam. Allah sendirilah yang memaqamkan kita. Jadi, kalau ada orang mengklaim, “Aku sudah di maqam qabdh; semalam aku berusaha naik dan bisa,” ini sebenarnya adalah omongan hawa nafsu.

Kadang-kadang para penempuh jalan sufi itu merasakan suasana tercekam oleh satu ketakutan bahwa Allah tidak mencintainya. Rabi’ah, misalnya, pernah mengatakan dalam munajatnya, “Oh Tuhan, apakah Engkau akan memasukkan diriku ke nerakaMu, sedangkan diriku sedang mencintaiMu. Apakah Engkau akan menyiksaku?” Siksaan bagi Rabi’ah bukan siksaan fisik; baginya, siksaan adalah hijab, antara diri dengan Tuhan. Jadi, seakan-akan Rabi’ah mengatakan, “Apakah Engkau tega menghijab diriku sedangkan diriku sedang mencintaiMu?” Allah menjawab, “Mana mungkin Aku menyiksa orang yang mencintaiKu”.

Kadang-kadang Allah memposisikan kita di situasi qabdh supaya kita tidak kehilangan Allah ketika kita dalam situasi basth. Basth itu suasana indah, asik, agung, luhur itu ketika kita ketemu Allah. Lalu kenapa Allah memberi kita cobaan, yang malah dapat menghilangkan suasana basth yang indah itu? Supaya kita berjumpa dengan Allah bukan dalam suasana asik dan indah saja, tapi juga dalam kondisi tercekam, penuh dengan cobaan dan penderitaan. Akhirnya, bagi para wali, baik qabdh maupun basth sama saja; indah maupun sedih sama saja. Bagaimana bisa? Karena semua itu sama-sama dari Allah, dan apapun yang berasal dari Allah pasti sempurna, tidak cacat. Begitu juga, Allah kadang membuat kita merasakan lagi suasana indah, padahal sebelumnya kita bersedih; ketika kita merasa susah karena merasa tidak pantas menyebut namaNya, tiba-tiba kemudian suasana berubah jadi “plong”, sama sekali di luar dugaan kita. Demikian itu karena Allah tidak membiarkan dirimu bersama Allah ketika dalam suasana qabdh.

Kemudian bisa saja Allah mengeluarkan kita dari dua situasi itu sehingga kita tidak dalam qabdh, juga tidak dalam basth. Lalu kemana? Ke haybah dan uns. Haibah itu juga rasa takut yang luar biasa, tapi ia diakibatkan musyahadah dan ma’rifah kepada Allah karena memandang jalāliyyah (Keagungan) Allah. Inilah yang dialami oleh para rasul dan para nabi. Rasulullah SAW, misalnya, ketika turun wahyu pertama kali, beliau merasakan suasana tercekam sampai beliau menggigil. Kenapa menggigil? Karena beliau mengalami ketakutan luar biasa, yaitu ketakutan akan kharisma Keagungan Allah; semua sendinya, syarafnya berbunyi “Allaah”. Orang-orang kafir Mekah menyangka Rasulullah sedang ayan atau gila, padahal beliau sedang mengalami haybah. Dalam suasan haybah itu, Rasulullah tidak ingin segera dipindah ke maqam uns, suasana mesra, bahagia dan indah karena melihat jamāliyyah (Keindahan) Allah, kemaha-indahan yang membuat, kira kira, anda tidak bisa berhenti dan dihentikan dalam tersenyum saking bahagianya.

Lalu Allah mengeluarkan si hamba dari semua suasana itu supaya ia tidak terjebak dalam situasi senang atau sedih, optimis atau pesimis, dan akhirnya ia tidak memiliki alasan sedikit pun untuk membuat alibi; agar banyaknya beban maupun kesenangan tidak membuatnya menunda ibadah atau zikir. Demikian inilah suasana mujahadah itu; Artinya, ketika kita berbuat baik, berjuang, melakukan apa saja, tidak perlu menunggu dukungan karena dukungan itu, pada hakikatnya, tidak bermanfaat. Kenapa? Karena itu semua makhluk, ciptaan Allah. Hanya dukungan Allah yang pasti bermanfaat. Kalau Anda menunggu dukungan massa untuk berjuang, untuk berbuat baik, maka biasanya ketika massa tidak lagi mendukung Anda, Anda akan merasa lemah dan merasa Allah tidak lagi mendukung Anda.[]

– – –

Artikel ini adalah hasil transkrip penjelasan KH. Luqman Hakim atas kitab al-Hikam karya Imam Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari di Masjid Al-Munawwaroh, Ciganjur, Jakarta Selatan.

About

Pengelola website pesantrenciganjur.org

Leave a Reply