Posted On March 24, 2017 By In Tasawuf And 471 Views

Titik Pusat Agama-agama

Konsep umum tentang hubungan antara manusia dan Tuhan, yang dapat disebut juga sebagai hablun min-Allah, sebenarnya berada di titik pusat dari setiap ajaran agama, bahkan merupakan titik pusat itu sendiri. Berpijak pada gagasan tersebut, dapat dipahami bahwa apapun interaksi dan hubungan manusia yang terjadi dalam dunianya, selama tidak berhubungan langsung dengan Tuhan, berada dalam bingkai dan koridor hablun min-Allah itu. Pada prakteknya, implementasi hablun min-Allah mengalir dalam setiap sendi aspek lain dari agama. Misalkan dalam Islam, perintah mendirikan sholat (sisi ritual atau metode) diiringi dengan gagasan li-dzikrii, “untuk mengingat-Ku”. Atau perintah berhaji dan umrah yang dibarengi konsep li-l-Allah. Sehingga sangat wajar bila dimensi batin, yang di dalamnya terdapat hubungan mesra antara yang relatif dengan Yang Mutlak, menjadi titik pusat dari sebuah agama. Hanya saja, masing-masing agama kemudian menekankan salah satu aspek saja ketimbang yang lainnya. Aspek yang diberi penekanan ini umumnya adalah aspek lahir yang cenderung bersifat membatasi kenyataan bahwa sejatinya Sang Kebenaran terkandung secara batin dalam setiap agama. Bentuk dari agama itulah yang sering muncul dipermukaan dan memagari ruang gerak spiritual manusia untuk mencapai Yang Mutlak. Ini dapat dimengerti karena agama sendiri eksis sebagai refleksi dari Yang Mutlak. Dan seperti yang terjadi dalam hukum alam, sebuah pantulan pasti memiliki karakteristik yang hampir sama dengan realitas yang dipantulkannya, sehingga di permukaan kita tentu melihat gambaran agama yang cenderung mutlak dalam setiap doktrin dan metodenya.

Bicara tentang “sentral”, Seyyed Hossein Nasr dalam The Garden of Truth memaparkan sisi yang cukup menarik untuk disimak. Tujuan jalan ruhani, tulisnya, adalah membawa kita ke sini dan sekarang, ke Pusat, yang juga saat sekarang yang kekal. Kesadaran bahwa kita selalu berada di sini, sekarang, di Pusat yang memiliki sisi fana dan baka dalam waktu yang sama, akan membantu kita bangun dari serangkaian mimpi yang hanya akan membatasi berbagai usaha dan kerja keras kita untuk bersentuhan dengan Yang Nyata.

Kenyataan bahwa Sang Kebenaran berada, secara batin, di setiap agama mungkin sedikit sulit dipahami, bila  agama yang dipahami sama seperti anggapan Wikipedia: agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan. Di sisi lain, istilah agama belakangan diasosiasikan dengan istilah mistisisme yang dalam beberapa hal cenderung mengabaikan kehidupan saat ini.  Untuk itu, gagasan awal  akan jauh lebih mudah diterima, jika agama dipahami melalui pendapat Muhammad Iqbal dalam Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam, seperti berikut ini:

“Agama yang lebih tinggi, yang hanya merupakan pencarian menuju kehidupan yang lebih luas, pada hakikatnya adalah pengalaman dan pengakuan terhadap pentingnya pengalaman sebagai dasar, jauh sebelum ilmu pengetahuan melakukannya. Ia merupakan suatu upaya yang benar-benar murni untuk mengarahkan kesadaran manusia. [1]

Proses menumbuhkan kesadaran, di mana Sang Kebenaran adalah mutlak dan tak terbatas, lambat laun membimbing manusia menemui Sang Realitas, tak peduli bagaimana atau dari mana ia berpijak pada awalnya. Karena itulah, agama sebaiknya dipahami sebagai petunjuk yang diturunkan bersamaan dengan lahirnya sosok manusia ke atas dunia, petunjuk yang dalam konteks tertentu dapat kita pahami sebagai wahyu atau ilham yang dapat membimbing manusia pada Sang Kebenaran, bukan terbatas pada kitab atau sosok yang disimbolkan dalam masing-masing agama. Hanya dengan ini kita dapat memahami bahwa berpegang teguh pada satu agama secara utuh dan menyeluruh sama dengan berpegang pada seluruh agama; utuh dalam arti tak ada satu aspek pun dari agama tersebut yang diabaikan, baik aspek lahir maupun batinnya. Timbul kemudian pertanyaan, apakah mungkin seluruh agama adalah benar? Gagasan bahwa tiap-tiap agama mengandung Sang Kebenaran memang dapat menimbulkan kebingungan di tengah para pemeluknya. Tapi, hal itu hanya akan terjadi bila mereka beranggapan bahwa agama yang mereka, dengan akal pikiran yang terbatas, pahami adalah kebenaran yang mutlak. Mereka yang tidak sadar bahwa apa yang mereka pahami sebenarnya hanya sebatas “sebuah agama”, bukan Sang Agama atau Sang Mutlak yang Esensi-Nya tak tersentuh akal pikiran makhluk fana, akan menolak dengan tegas bahwa Sang Kebenaran mengalir di setiap agama. Namun, keberadaan nilai-nilai universal agama menjadi tanda atau indikasi kuat bahwa pada satu titik dalam batin setiap agama, mereka telah duduk bersisian di atas bangku kesepakatan yang sama.

Ketika manusia berusaha keras memahami dan mencari keberadaan Sang Realitas, ia akan menemukan nilai-nilai universal yang nyatanya mengalir dalam setiap agama. Dalam konteks Islam, misalnya, Gus Dur, dalam Islam Kosmopolitan, menerjemahkan universalisme Islam dengan lima buah jaminan dasar yang diberikan Islam kepada warga masyarakat, baik secara perorangan maupun kelompok.[2] Dengan adanya universalitas dalam setiap agama, maka dapat dikatakan bahwa sinkretisme atau pencampur-adukan ajaran agama sama sekali tidak berguna dalam upaya mendekatkan diri pada Sang Kebenaran. Selain itu, sinkretisme juga akan menghancurkan eksistensi tiap-tiap agama yang menyediakan jalan masing-masing bagi yang relatif untuk bersentuhan dengan Yang Mutlak. Agama wahyu yang mayoritas dianut oleh manusia menjadi sarana yang telah direstui Tuhan untuk menuntun para pencari Sang Kebenaran. Tanpa adanya wahyu, dalam pengertiannya yang paling universal, dan tanpa adanya kemurahan hati Tuhan untuk menyediakan cara atau sarana mendekati Diri-Nya, tak akan ada satupun agama ataupun manusia di muka bumi ini yang dapat bersentuhan dengan Sang Realitas. Jadi pada dasarnya, setiap agama yang lurus adalah pilihan atau petunjuk dari Langit, dan agama yang utuh mesti mengandung doktrin dan metode yang akan menuntun para pengikutnya yang bijak pada pintu Langit-Nya.

Dalam perjalanan manusia mencari atau menemui Tuhan, karakteristik Islam dalam memandang entitas wujud  keduanya sangatlah berbeda dengan apa yang dapat kita temui pada agama Kristiani. Islam memandang manusia sebagai yang relatif dan fana, nisbi dan suci dalam fitrahnya untuk memulai sebuah usaha menemui Sang Mutlak. Dalam Islam, manusia adalah makhluk yang berpusat jauh dalam jiwanya, tak memikul suatu dosa asal yang perlu dibayar dengan sebuah pengorbanan dahsyat kepada al-Haqq, Sang Mahanyata. Dalam doktrin tentang Tuhan, Islam tidak menekankan tajalli Tuhan; sebaliknya, Tuhan dipandang sebagaimana Dia apa adanya, Yang Mutlak, Tak Terhingga, Yang Mahanyata, Yang Tak Terpengaruh dengan belenggu-belenggu dalam sejarah manusia. Kisah-kisah mengenai Sang Realitas yang berbicara dan berjumpa dengan para nabi dan orang suci, tak membuat Islam menekankan doktrin tajalli tersebut, Sehingga baik manusia maupun Tuhan dipandang sebagai dirinya apa adanya. Berbeda dengan yang terjadi pada Kristen, di mana asumsi tentang Tuhan Yang Mutlak dan Tak Terbatas mendapat guncangan besar ketika mereka mengalami momen di saat Kristus benar-benar hidup dan berinteraksi dengan mereka sebagai manusia seutuhnya. Pengalaman hidup bersama sosok ideal dengan berbagai sifat ilahiah yang mengalir dalam Kristus menuntun para pengikutnya untuk menisbatkan ke-Tuhan-an Allah pada Kristus. Yesus dianggap sebagai perwujudan Tuhan di muka bumi, sehingga ia seutuhnya adalah manusia dan Tuhan dalam waktu yang bersamaan. Selain itu, Kristen juga mengandung doktrin Atonement atau doktrin kedamaian antara Allah dan manusia melalui kematian Kristus,[3] sehingga manusia dianggap mempunyai dosa asal yang dipikul sejak dirinya lahir ke dunia, baik itu dosa Adam yang memakan buah terlarang di Eden, ataupun dalam pengertiannya yang lebih luas, berupa keterputusan atau keterasingan dari Tuhan.[4] Corak mengenai manusia yang berdosa inilah yang menjadi salah satu perbedaan besar doktrin agama antara Islam dan Kristen.[]

_________________

[1] Iqbal, Muhammad. 2016. Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam. Bandung: Mizan. h. 240.

[2] Wahid, Abdurrahman, Islam Kosmopolitan, Jakarta: The Wahid Institute, h. 4.

[3] Smith, Huston. 2015. Agama-Agama Manusia. Jakarta: Serambi. h. 382.

[4] Ibid,h. 384.

Tags : ,

Mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), Kepala Madrasah Diniyyah Al-Munawwaroh Ciganjur.

Leave a Reply